Cara Meningkatkan Penjualan Online agar Lebih Terarah dan Terukur
Cara meningkatkan penjualan online tidak cukup dilakukan dengan memperbanyak posting promo atau menurunkan harga. Bisnis perlu membangun proses yang memudahkan calon pelanggan menemukan produk, memahami manfaatnya, percaya pada brand, lalu melakukan pembelian melalui jalur yang sederhana.
Bagi UMKM, toko online, bisnis kuliner, brand fashion, produk beauty, seller marketplace, hingga penyedia jasa, cara meningkatkan penjualan online perlu memadukan kualitas penawaran, konten, social proof, marketplace, website atau landing page, respons admin, promosi berbayar, serta evaluasi data. Setiap elemen tersebut saling terhubung. Traffic yang tinggi tidak akan banyak membantu bila katalog membingungkan, harga tidak jelas, atau calon pelanggan tidak segera mendapat respons.
Marketing yang efektif bukan hanya membuat bisnis terlihat aktif di media sosial. Strategi yang baik membantu bisnis menemukan target audiens, menyampaikan pesan yang konsisten, membangun brand, dan menciptakan peluang conversion yang lebih terukur.
Apa yang Dimaksud dengan Meningkatkan Penjualan Online?
Meningkatkan penjualan online adalah upaya memperbesar jumlah transaksi, nilai pesanan, pelanggan baru, atau repeat order melalui kanal digital. Kanal tersebut dapat berupa Instagram, TikTok, marketplace, website, landing page, WhatsApp Business, Google Search, email, creator campaign, dan iklan digital.
Namun, cara meningkatkan penjualan online tidak hanya berfokus pada tahap transaksi. Prosesnya juga mencakup bagaimana calon pelanggan menemukan bisnis, mempertimbangkan produk, membaca ulasan, melihat detail harga, bertanya, dan memutuskan untuk membeli.
1. Penjualan Online Memiliki Beberapa Tahap
Dalam praktiknya, pelanggan biasanya bergerak melalui tahapan berikut:
| Tahap | Pertanyaan Pelanggan | Fokus Bisnis |
|---|---|---|
| Awareness | “Produk atau brand ini apa?” | Konten, Reach, Reels, creator campaign |
| Interest | “Apakah produk ini relevan bagi saya?” | Edukasi, demo, manfaat, perbandingan |
| Consideration | “Apakah brand ini dapat dipercaya?” | Testimoni, review, FAQ, portofolio |
| Conversion | “Bagaimana cara membeli?” | CTA, katalog, checkout, WhatsApp |
| Retention | “Apakah saya perlu membeli lagi?” | Follow-up, loyalty, after-sales, promo ulang |
Bila satu tahap lemah, penjualan dapat tertahan. Contohnya, konten dapat menjangkau banyak audiens, tetapi tidak menghasilkan transaksi karena link pembelian sulit ditemukan atau informasi harga tidak tersedia.
2. Penjualan Tidak Selalu Naik Hanya karena Traffic Bertambah
Traffic penting, tetapi kualitas traffic lebih penting. Seribu pengunjung yang tidak sesuai target belum tentu menghasilkan hasil lebih baik dibanding seratus pengunjung yang benar-benar membutuhkan produk.
Karena itu, cara meningkatkan penjualan online perlu fokus pada tiga elemen utama:
- Mendatangkan audiens yang relevan.
- Memudahkan mereka memahami nilai produk.
- Menyederhanakan proses pembelian dan follow-up.
3. Penjualan Online Perlu Diukur dengan Data
Untuk mengevaluasi hasil, bisnis perlu melihat lebih dari sekadar likes atau followers.
Metrik yang dapat dipantau meliputi:
- Reach dan impressions.
- Klik link.
- Kunjungan katalog.
- Klik WhatsApp.
- Direct Message.
- Jumlah checkout.
- Jumlah transaksi.
- Nilai pesanan rata-rata.
- Penggunaan kode promo.
- Biaya per lead.
- Biaya per transaksi.
- Repeat order.
Dengan data tersebut, bisnis dapat mengetahui channel, konten, dan promo mana yang layak dipertahankan atau diperbaiki.
Fondasi Sebelum Meningkatkan Penjualan Online
Sebelum menjalankan iklan, endorsement, atau promo besar, pastikan fondasi bisnis sudah siap. Promosi yang berhasil dapat mendatangkan banyak calon pelanggan, tetapi hasilnya bisa hilang apabila katalog, stok, admin, atau proses pembelian belum tertata.
1. Tentukan Target Pelanggan Utama
Salah satu langkah penting dalam cara meningkatkan penjualan online adalah menentukan siapa yang paling mungkin membeli produk Anda.
Target pelanggan dapat dipetakan berdasarkan:
- Usia.
- Lokasi.
- Minat.
- Gaya hidup.
- Daya beli.
- Pekerjaan.
- Kebiasaan belanja.
- Platform yang digunakan.
- Masalah yang ingin diselesaikan.
- Faktor keputusan pembelian.
Contohnya, frozen food dapat ditujukan kepada keluarga sibuk, mahasiswa, atau pekerja yang membutuhkan makanan praktis. Produk fashion dapat menyasar pengguna dengan preferensi gaya tertentu. Jasa website dapat menyasar pemilik UMKM yang membutuhkan aset digital untuk promosi.
Target yang jelas membantu bisnis membuat konten, menentukan harga, memilih channel, serta menyusun pesan yang lebih relevan.
2. Perjelas Nilai Produk dan Pembeda Brand
Jangan hanya menjual nama produk. Calon pelanggan perlu memahami manfaat, fungsi, dan alasan memilih produk Anda dibanding pilihan lain.
Gunakan pertanyaan berikut:
- Masalah apa yang dibantu oleh produk?
- Siapa yang paling cocok menggunakan produk?
- Apa manfaat utamanya?
- Apa pembeda bisnis Anda?
- Bagaimana proses pemesanan?
- Apa yang pelanggan dapatkan setelah membeli?
- Mengapa penawaran ini relevan sekarang?
| Pesan Kurang Jelas | Pesan yang Lebih Membantu |
| Jual frozen food enak | Frozen food praktis untuk kebutuhan makan saat waktu memasak terbatas |
| Jasa desain murah | Jasa desain konten untuk UMKM yang membutuhkan materi promosi konsisten |
| Cafe nyaman | Coffee shop dengan area yang mendukung kerja, belajar, dan pertemuan santai |
| Skincare berkualitas | Produk skincare dengan informasi penggunaan yang jelas sesuai kebutuhan pelanggan |
Pilih bahasa yang spesifik dan realistis. Hindari klaim seperti “pasti berhasil”, “paling aman”, atau “terbaik” bila tidak dapat dibuktikan.
3. Rapikan Jalur Pembelian
Calon pelanggan tidak seharusnya mencari-cari cara membeli setelah tertarik pada produk. Pastikan jalur transaksi mudah ditemukan dari setiap channel promosi.
Siapkan:
- Link WhatsApp Business.
- Katalog digital.
- Link marketplace.
- Website atau landing page.
- Informasi harga.
- Detail varian produk.
- Stok atau ketersediaan.
- Ketentuan pengiriman.
- Metode pembayaran.
- FAQ.
- Admin yang responsif.
Untuk bisnis jasa, jalur pembelian dapat berupa tombol konsultasi, form quotation, jadwal meeting, atau link WhatsApp. Untuk produk fisik, jalur tersebut dapat diarahkan ke marketplace, checkout website, atau katalog pesanan.
Optimalkan Halaman Produk agar Lebih Mudah Mengonversi
Halaman produk adalah titik penting dalam proses pembelian. Calon pelanggan dapat datang dari Instagram, TikTok, Google, influencer, iklan, atau marketplace, tetapi mereka membutuhkan informasi yang cukup sebelum memutuskan transaksi.
1. Gunakan Judul Produk yang Mudah Dicari
Judul produk berperan penting agar produk lebih mudah ditemukan oleh calon pelanggan melalui mesin pencari, marketplace, maupun fitur pencarian di website. Judul yang terlalu singkat atau terlalu umum dapat membuat produk sulit muncul ketika pelanggan mencari produk dengan kata kunci tertentu.
Buat judul produk yang jelas, spesifik, dan mengandung informasi utama yang benar-benar dicari oleh pelanggan.
Beberapa elemen yang dapat dimasukkan dalam judul produk meliputi:
- Nama atau jenis produk secara jelas.
- Merek produk apabila merek memiliki nilai pencarian.
- Ukuran, warna, bahan, atau varian penting.
- Fungsi utama atau target penggunaan produk.
- Kata kunci yang biasa digunakan calon pelanggan saat mencari produk.
Contohnya, dibanding hanya menggunakan judul “Tas Wanita”, Anda dapat menggunakan judul yang lebih spesifik seperti “Tas Selempang Wanita Kulit Sintetis Premium untuk Kerja dan Kuliah”. Judul seperti ini lebih informatif dan memiliki peluang lebih besar ditemukan oleh pelanggan yang membutuhkan produk tersebut.
2. Gunakan Foto dan Video yang Menjawab Keraguan Pelanggan
Visual produk tidak hanya perlu terlihat menarik. Foto dan video harus membantu pelanggan memahami produk.
Tampilkan:
- Produk dari beberapa sudut.
- Detail bahan atau tekstur.
- Ukuran atau skala produk.
- Cara penggunaan.
- Isi paket.
- Perbandingan varian.
- Kondisi produk saat dipakai.
- Proses pengemasan.
- Video singkat penggunaan produk.
- Informasi ukuran untuk fashion.
- Portofolio atau hasil kerja untuk jasa.
Untuk bisnis jasa, gantikan foto produk dengan studi kasus, alur kerja, contoh hasil, testimoni, atau penjelasan proses konsultasi.
3. Buat Deskripsi Produk yang Berorientasi pada Kebutuhan Pelanggan
Deskripsi yang baik menjawab pertanyaan dasar sebelum pelanggan bertanya melalui chat.
Bagian yang dapat dimasukkan:
- Manfaat utama.
- Siapa yang cocok menggunakan produk.
- Detail bahan atau spesifikasi.
- Pilihan varian.
- Cara penggunaan.
- Ketentuan pengiriman.
- Estimasi pengerjaan untuk jasa.
- FAQ.
- Garansi atau kebijakan retur bila berlaku.
- CTA pembelian.
Konten website atau marketplace sebaiknya dibuat untuk membantu pelanggan mengambil keputusan, bukan hanya untuk menambah kata kunci. Google menekankan konten yang bermanfaat, andal, dan dibuat terutama untuk manusia, bukan untuk memanipulasi peringkat pencarian.
Gunakan Konten untuk Mendatangkan Audiens yang Relevan
Konten dapat membantu pelanggan menemukan bisnis sebelum mereka siap membeli. Konten yang hanya berisi promo cenderung sulit membangun hubungan jangka panjang karena audiens belum memahami nilai produk.
1. Gunakan Pilar Konten yang Seimbang
Pilar konten adalah kategori utama yang menjadi dasar dalam membuat konten secara konsisten. Dengan pilar konten yang jelas, bisnis tidak akan kehabisan ide dan komunikasi brand akan terasa lebih terarah.
Beberapa jenis pilar konten yang dapat digunakan antara lain:
- Konten edukasi yang membahas tips, informasi, atau solusi terkait kebutuhan pelanggan.
- Konten promosi yang memperkenalkan produk, layanan, paket, diskon, atau penawaran khusus.
- Konten testimoni untuk menunjukkan pengalaman nyata dari pelanggan sebelumnya.
- Konten hiburan yang ringan, relevan, dan mudah menarik perhatian audiens.
- Konten behind the scene untuk memperlihatkan proses kerja, tim, kualitas bahan, atau aktivitas bisnis.
- Konten branding yang membangun nilai, cerita, visi, dan karakter bisnis.
Kombinasi pilar konten yang seimbang membantu audiens mendapatkan informasi yang bermanfaat tanpa merasa terus-menerus ditawari produk. Hal ini juga membuat akun bisnis terlihat lebih aktif, kredibel, dan menarik untuk diikuti.
2. Buat Konten Berdasarkan Pertanyaan Pelanggan
Pertanyaan yang sering muncul dari pelanggan adalah sumber ide konten yang kuat.
Contoh topik:
- Apa perbedaan varian A dan B?
- Bagaimana memilih ukuran yang tepat?
- Bagaimana cara melakukan pemesanan?
- Berapa lama estimasi pengerjaan?
- Apa yang termasuk dalam paket layanan?
- Bagaimana cara menggunakan produk?
- Produk mana yang cocok untuk pemula?
- Apakah tersedia pengiriman ke area tertentu?
- Bagaimana proses konsultasi?
Konten berbasis pertanyaan nyata biasanya lebih berguna untuk audiens dan berpotensi menghasilkan saves, shares, serta Direct Message.
3. Tampilkan Produk dalam Situasi Nyata
Calon pelanggan lebih mudah membayangkan manfaat ketika produk ditampilkan dalam konteks penggunaan.
Contoh:
- Produk makanan ditampilkan ketika disajikan.
- Fashion ditampilkan saat dipakai dalam aktivitas harian.
- Produk rumah tangga ditampilkan saat digunakan.
- Cafe ditampilkan melalui suasana, menu, dan aktivitas pengunjung.
- Jasa desain ditampilkan melalui proses serta hasil kerja.
- Produk kecantikan ditampilkan melalui panduan penggunaan yang benar.
Konten kontekstual membantu produk terasa lebih relevan dibanding foto katalog tanpa penjelasan.
Maksimalkan Instagram dan TikTok untuk Penjualan
Instagram dan TikTok dapat membantu bisnis menarik perhatian melalui konten visual. Namun, konten tersebut perlu mengarahkan audiens menuju langkah berikutnya.
1. Gunakan Reels atau Video Pendek dengan Satu Pesan Utama
Video pendek dapat digunakan untuk memperkenalkan produk, menunjukkan cara penggunaan, membagikan testimoni, atau menjawab FAQ.
Ide konten:
- Unboxing produk.
- Produk best seller.
- Tutorial singkat.
- Perbandingan varian.
- Proses packing.
- Review pelanggan.
- Proses pembuatan produk.
- Video suasana outlet.
- Cerita pemilik bisnis.
- Tips penggunaan.
- Promo dengan kode voucher.
- Konten sebelum dan sesudah yang faktual.
Awali video dengan pembuka yang jelas. Contohnya, “Masih bingung memilih ukuran produk?” atau “Butuh menu praktis untuk stok di rumah?” Setelah itu, arahkan audiens ke satu CTA yang spesifik.
2. Gunakan Instagram Story untuk Mendorong Percakapan
Story dapat digunakan untuk menjaga hubungan dengan followers dan mendorong tindakan cepat.
Gunakan Story untuk:
- Stok terbaru.
- Review pelanggan.
- Polling.
- Tanya jawab.
- Pengumuman promo.
- Kode voucher.
- Aktivitas packing.
- Reminder event.
- Pengiriman produk.
- Informasi jam operasional.
Story yang interaktif dapat memberi insight tentang minat pelanggan sekaligus menjadi sumber topik konten berikutnya.
3. Gunakan CTA yang Jelas
Satu konten sebaiknya memiliki satu tindakan utama. Terlalu banyak CTA dapat membuat audiens bingung.
Contoh CTA untuk konten awareness:
- Simpan konten ini.
- Bagikan kepada teman.
- Follow akun untuk update produk.
- Cek Highlight produk.
Contoh CTA untuk conversion:
- Klik link di bio.
- Hubungi WhatsApp.
- Cek katalog lengkap.
- Gunakan kode promo.
- Pesan melalui marketplace.
- Reservasi sebelum kuota penuh.
Shanum Agency menjelaskan Instagram dapat digunakan tidak hanya sebagai media promosi, tetapi juga sebagai sarana komunikasi dan relationship building melalui konten, campaign, creator collaboration, dan iklan yang sesuai tujuan bisnis.
Bangun Social Proof agar Pelanggan Lebih Percaya
Pelanggan baru sering membutuhkan bukti sebelum membeli. Social proof menunjukkan bahwa produk atau layanan sudah digunakan, dinilai, atau direkomendasikan oleh orang lain.
1. Gunakan Testimoni yang Autentik
Testimoni dapat ditampilkan dalam bentuk:
- Ulasan marketplace.
- Review Google Business Profile.
- Screenshot chat dengan izin pelanggan.
- Video review.
- Foto pelanggan menggunakan produk.
- Studi kasus.
- Cerita pengalaman pelanggan.
- Portofolio hasil kerja.
- Ulasan pascapembelian.
Jangan membuat testimoni fiktif atau mengubah konteks ulasan pelanggan. Kejujuran membantu membangun reputasi yang lebih tahan lama.
2. Tampilkan Bukti Proses dan Kualitas
Selain testimoni, pelanggan juga dapat diyakinkan melalui proses yang transparan.
Contoh konten proses:
- Pemilihan bahan.
- Quality control.
- Produksi.
- Pengemasan.
- Pengiriman.
- Aktivitas tim.
- Proses konsultasi.
- Tahapan pengerjaan jasa.
- Persiapan event.
- Penyelesaian project.
Konten seperti ini membantu audiens memahami bahwa bisnis memiliki proses dan standar yang dijaga.
3. Gunakan User-Generated Content dengan Izin
User-generated content atau UGC adalah konten yang dibuat oleh pelanggan, seperti foto produk, video unboxing, ulasan, story media sosial, maupun konten pengalaman mereka setelah menggunakan layanan Anda. Konten seperti ini terasa lebih natural karena berasal dari pengguna, bukan dari brand secara langsung.
Agar penggunaan UGC tetap profesional dan efektif, lakukan beberapa langkah berikut:
- Mintalah izin kepada pelanggan sebelum mengunggah ulang foto, video, atau ulasan mereka.
- Cantumkan kredit atau tag akun pelanggan apabila mereka mengizinkannya.
- Pilih konten yang menunjukkan produk atau layanan digunakan secara nyata dalam kehidupan pelanggan.
- Gunakan UGC untuk konten media sosial, halaman website, katalog, iklan, maupun highlight testimoni.
- Buat kampanye sederhana yang mendorong pelanggan membagikan pengalaman mereka menggunakan produk Anda.
- Berikan apresiasi, seperti repost, voucher, diskon, atau hadiah kecil kepada pelanggan yang bersedia membuat konten.
- Pastikan konten yang digunakan tetap sesuai dengan citra, nilai, dan standar komunikasi brand Anda.
UGC dapat membuat brand terlihat lebih hidup dan dipercaya karena calon pelanggan melihat pengalaman nyata dari pengguna lain. Semakin banyak bukti positif yang terlihat secara alami, semakin besar peluang pelanggan baru untuk merasa yakin melakukan pembelian.
Manfaatkan Marketplace, Website, dan SEO
Media sosial membantu menarik perhatian, sedangkan marketplace dan website membantu pelanggan membaca informasi secara lebih lengkap serta melakukan pembelian.
1. Optimalkan Listing Marketplace
Halaman marketplace perlu menjawab pertanyaan sebelum pelanggan masuk ke chat.
Pastikan listing memuat:
- Judul produk yang jelas.
- Foto dari beberapa sudut.
- Video bila tersedia.
- Deskripsi manfaat.
- Detail spesifikasi.
- Varian produk.
- Panduan ukuran bila relevan.
- FAQ.
- Informasi stok.
- Estimasi pengiriman.
- Ketentuan retur.
- Ulasan pelanggan.
Pengalaman belanja yang jelas membantu mengurangi pertanyaan berulang dan mempercepat keputusan transaksi.
2. Gunakan Website sebagai Aset Jangka Panjang
Website adalah aset digital yang memberikan bisnis kontrol penuh terhadap informasi, tampilan brand, serta proses pemasaran. Berbeda dengan marketplace atau media sosial yang mengikuti aturan platform, website dapat dikembangkan sesuai kebutuhan bisnis dalam jangka panjang.
Website juga dapat menjadi pusat informasi utama yang menghubungkan berbagai kanal pemasaran bisnis, seperti media sosial, marketplace, iklan digital, dan WhatsApp.
Beberapa manfaat website untuk pertumbuhan bisnis antara lain:
- Menampilkan profil bisnis secara lebih profesional dan terpercaya.
- Menyediakan informasi produk atau layanan yang lebih lengkap dibandingkan media sosial.
- Menjadi tempat untuk menampilkan katalog, portofolio, testimoni, artikel, dan promosi.
- Memudahkan calon pelanggan menghubungi bisnis melalui formulir, WhatsApp, atau fitur pemesanan.
- Membantu bisnis membangun visibilitas di mesin pencari melalui strategi SEO.
- Menjadi aset yang dapat dikembangkan untuk kebutuhan toko online, sistem booking, membership, atau integrasi aplikasi.
- Mengurangi ketergantungan bisnis pada satu platform eksternal.
Dengan website yang dikelola dengan baik, bisnis dapat membangun kepercayaan secara lebih kuat sekaligus menciptakan sumber traffic dan calon pelanggan yang berkelanjutan.
3. Buat Landing Page untuk Campaign Khusus
Landing page cocok digunakan untuk:
- Launching produk.
- Promo bundling.
- Pre-order.
- Pendaftaran event.
- Penawaran konsultasi.
- Promo pelanggan baru.
- Paket jasa.
- Campaign influencer.
Halaman campaign sebaiknya memiliki headline jelas, manfaat utama, detail penawaran, testimoni, FAQ, CTA, dan jalur kontak yang mudah ditemukan.
Gunakan Iklan Digital Berdasarkan Tujuan
Iklan dapat membantu bisnis menjangkau audiens baru atau mengarahkan calon pelanggan ke katalog, website, WhatsApp, dan checkout. Namun, objective iklan perlu disesuaikan dengan tujuan bisnis.
Meta menyediakan objective utama seperti awareness, traffic, engagement, leads, app promotion, dan sales. Meta menyarankan advertiser memilih objective yang paling dekat dengan tujuan bisnis utama.
1. Gunakan Awareness untuk Pengenalan Produk
Campaign awareness cocok ketika bisnis ingin memperkenalkan brand, produk, event, atau lokasi kepada audiens baru.
KPI yang dapat dipantau:
- Reach.
- Impressions.
- Video views.
- Profile visits.
- Pertumbuhan followers relevan.
- Pencarian brand.
Meta menjelaskan campaign awareness dapat dioptimalkan untuk reach, impressions, ad recall, maupun video views tergantung tujuan campaign.
2. Gunakan Traffic untuk Mengarahkan Audiens ke Tujuan Tertentu
Objective traffic cocok ketika bisnis ingin mengarahkan orang ke website, landing page, katalog, WhatsApp, Messenger, atau panggilan bisnis.
Gunakan traffic ketika:
- Landing page sudah siap.
- Katalog jelas.
- Link WhatsApp aktif.
- Admin siap merespons.
- Produk memiliki informasi lengkap.
- CTA dapat dipahami dengan cepat.
KPI yang dapat dipantau:
- Klik link.
- Landing page visits.
- Klik WhatsApp.
- Kunjungan marketplace.
- Cost per click.
3. Gunakan Leads atau Sales untuk Tujuan yang Lebih Dekat dengan Conversion
Objective leads dan sales lebih cocok digunakan ketika bisnis ingin mendorong tindakan yang lebih dekat dengan conversion. Contohnya adalah pengisian formulir, konsultasi, pemesanan, pengiriman pesan, hingga pembelian produk.
Leads biasanya digunakan untuk mengumpulkan data calon pelanggan yang berpotensi tertarik, sedangkan sales lebih fokus pada tindakan pembelian atau transaksi.
Objective leads dapat digunakan untuk kebutuhan seperti:
- Mengumpulkan data calon pelanggan melalui formulir.
- Mendapatkan permintaan konsultasi atau penawaran harga.
- Mengarahkan calon pelanggan untuk menghubungi tim sales.
- Mengumpulkan pendaftar webinar, event, atau program promo.
- Mendapatkan prospek baru untuk proses follow up melalui WhatsApp atau email.
Sementara itu, objective sales dapat digunakan untuk:
- Mendorong pembelian langsung melalui website atau checkout.
- Meningkatkan penjualan produk melalui katalog digital.
- Menjalankan promo diskon, bundling, atau penawaran terbatas.
- Menargetkan ulang audiens yang pernah melihat produk tetapi belum membeli.
- Mengoptimalkan iklan kepada audiens yang memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk melakukan transaksi.
Agar objective leads atau sales bekerja lebih efektif, bisnis perlu menyiapkan penawaran yang jelas, proses pemesanan yang mudah, serta sistem follow up yang cepat. Calon pelanggan yang sudah menunjukkan minat perlu segera ditangani agar peluang conversion tidak hilang.
Jalankan Influencer Marketing secara Terukur
Influencer marketing dapat membantu memperkenalkan produk kepada komunitas baru, terutama bila creator dipilih berdasarkan niche, lokasi audiens, dan relevansi produk.
1. Pilih Creator Berdasarkan Audiens, Bukan Sekadar Followers
Periksa:
- Niche creator.
- Lokasi audiens.
- Demografi followers.
- Rata-rata views.
- Kualitas komentar.
- Engagement rate.
- Gaya penyampaian.
- Riwayat promosi.
- Reputasi creator.
- Kesesuaian dengan target brand.
Untuk bisnis lokal, creator lokal sering relevan karena followers mereka dapat berasal dari wilayah dan komunitas yang sama.
2. Gunakan Kode Promo atau Link Khusus
Setiap creator sebaiknya memiliki kode promo atau link tersendiri.
Contoh:
- CREATORA10.
- FOODIE15.
- PROMOBANDUNG.
- LINK-A.
- LINK-B.
Tracking ini membantu bisnis mengetahui creator mana yang menghasilkan:
- Reach.
- Traffic.
- Pesan masuk.
- Penggunaan kode promo.
- Transaksi.
- Repeat order.
3. Gunakan Konten Creator sebagai Social Proof
Konten creator dapat digunakan kembali pada Story, Highlight, landing page, katalog, atau iklan apabila hak penggunaan sudah disepakati sejak awal.
Influencer marketing dapat membantu brand memperluas jangkauan melalui creator di Instagram, TikTok, YouTube, atau X, dengan biaya yang dipengaruhi antara lain oleh jumlah creator, ukuran audiens, platform, jenis konten, dan durasi campaign.
Perkuat Follow-Up agar Leads Tidak Hilang
Banyak bisnis terlalu fokus mendapatkan chat baru, tetapi belum memiliki sistem follow-up. Padahal, calon pelanggan sering belum membeli pada percakapan pertama.
1. Siapkan Template Respons untuk Admin
Admin perlu memiliki informasi dasar agar dapat merespons dengan cepat dan konsisten.
Siapkan template untuk:
- Salam awal.
- Penjelasan produk.
- Daftar harga.
- Link katalog.
- Estimasi pengiriman.
- Ketentuan promo.
- Cara pembayaran.
- Follow-up keranjang atau pesanan.
- Jawaban FAQ.
- Penanganan keluhan.
Template bukan berarti respons harus terasa robotik. Gunakan sebagai dasar, lalu tetap sesuaikan dengan pertanyaan pelanggan.
2. Follow-Up dengan Konteks yang Relevan
Follow-up sebaiknya membantu pelanggan mengambil keputusan, bukan sekadar mengirim pesan “jadi pesan?”
Contoh follow-up yang lebih membantu:
Halo, terima kasih sudah melihat katalog kami. Produk yang Anda tanyakan masih tersedia. Saya juga bisa bantu rekomendasikan varian yang sesuai kebutuhan Anda.
Atau:
Halo, untuk paket yang kemarin Anda tanyakan masih tersedia. Saat ini ada promo bundling sampai [tanggal], dan saya bisa kirim detailnya bila Anda masih mempertimbangkan.
Gunakan follow-up secara wajar dan hormati pelanggan yang belum siap membeli.
3. Catat Sumber Leads
Tanyakan atau catat sumber calon pelanggan, misalnya:
- Instagram.
- TikTok.
- Marketplace.
- Google Search.
- Influencer.
- Meta Ads.
- Rekomendasi pelanggan.
- Event.
- Website.
Data ini membantu bisnis mengetahui channel mana yang mendatangkan leads berkualitas, bukan hanya jumlah chat terbanyak.
Tingkatkan Repeat Order dan Nilai Pesanan
Cara meningkatkan penjualan online tidak harus selalu mencari pelanggan baru. Pelanggan yang sudah membeli dapat menjadi sumber pertumbuhan melalui repeat order, bundling, upsell, cross-sell, dan referral.
1. Berikan Pengalaman Pascapembelian yang Baik
Setelah transaksi, pastikan pelanggan menerima informasi yang jelas mengenai:
- Status pesanan.
- Estimasi pengiriman.
- Cara penggunaan produk.
- Cara perawatan.
- Kontak bantuan.
- Kebijakan retur bila berlaku.
- Cara memberi review.
Pengalaman after-sales yang baik dapat membantu pelanggan merasa lebih percaya untuk membeli kembali.
2. Gunakan Bundling dan Cross-Sell Secara Relevan
Bundling membantu pelanggan membeli beberapa produk sekaligus bila penawarannya benar-benar relevan.
Contoh:
- Paket frozen food mingguan.
- Bundling skincare sesuai rutinitas.
- Paket menu cafe untuk dua orang.
- Paket jasa website dan landing page.
- Paket produk utama dengan aksesori pendukung.
- Paket event dengan bonus add-on.
Jangan menawarkan terlalu banyak tambahan yang tidak sesuai kebutuhan pelanggan. Fokus pada produk pelengkap yang benar-benar membantu.
3. Bangun Program Referral atau Loyalty
Pelanggan lama dapat membantu memperkenalkan brand kepada calon pelanggan baru melalui referral atau rekomendasi.
Contoh program:
- Kode referral.
- Poin pembelian.
- Bonus repeat order.
- Promo pelanggan lama.
- Voucher ulang tahun.
- Penawaran eksklusif pelanggan.
- Reward setelah jumlah transaksi tertentu.
Program perlu sederhana, jelas, dan mudah digunakan agar pelanggan tidak bingung.
Cara Mengukur Peningkatan Penjualan Online
Evaluasi membantu bisnis memahami strategi mana yang benar-benar memberi dampak. Jangan hanya melihat omzet total tanpa mengetahui sumber penjualan.
1. Pantau KPI Berdasarkan Funnel
Setiap tahapan funnel penjualan memiliki tujuan dan indikator keberhasilan yang berbeda. Dengan memantau KPI berdasarkan funnel, bisnis dapat mengetahui apakah masalah terjadi pada tahap menarik perhatian audiens, membangun minat, atau mendorong pembelian.
Beberapa KPI yang dapat dipantau berdasarkan tahapan funnel meliputi:
- Jumlah kunjungan website atau landing page.
- Reach, impressions, dan engagement dari konten media sosial.
- Jumlah klik dari iklan, marketplace, atau link promosi.
- Jumlah leads, chat masuk, formulir yang diisi, atau calon pelanggan yang menghubungi bisnis.
- Jumlah add to cart, checkout, dan transaksi berhasil.
- Biaya iklan per klik, per leads, atau per pembelian.
- Jumlah pelanggan yang melakukan repeat order.
Data tersebut membantu bisnis menemukan titik lemah pada proses penjualan. Contohnya, traffic website tinggi tetapi checkout rendah dapat menunjukkan bahwa penawaran, harga, informasi produk, atau proses pembelian masih perlu diperbaiki.
2. Hitung Conversion Rate
Conversion rate adalah persentase pengunjung yang melakukan tindakan sesuai tujuan bisnis, seperti membeli produk, mengisi formulir, menghubungi WhatsApp, atau mendaftar layanan. Metrik ini penting karena jumlah pengunjung yang besar belum tentu menghasilkan penjualan yang tinggi.
Rumus sederhana untuk menghitung conversion rate adalah:
Conversion Rate = (Jumlah Konversi ÷ Jumlah Pengunjung) × 100%
Sebagai contoh, apabila sebuah landing page mendapatkan 1.000 pengunjung dan menghasilkan 30 pembelian, maka conversion rate-nya adalah 3%.
Beberapa jenis conversion rate yang dapat diukur antara lain:
- Persentase pengunjung website yang melakukan pembelian.
- Persentase pengunjung yang menekan tombol WhatsApp atau tombol checkout.
- Persentase calon pelanggan yang membalas penawaran.
- Persentase keranjang belanja yang berhasil berubah menjadi transaksi.
- Persentase pelanggan lama yang melakukan pembelian kembali.
Dengan memantau conversion rate secara rutin, bisnis dapat menilai efektivitas halaman produk, promosi, iklan, penawaran, hingga layanan customer service.
3. Buat Laporan Bulanan
Laporan bulanan membantu bisnis melihat perkembangan penjualan secara lebih objektif. Evaluasi tidak hanya dilakukan berdasarkan kenaikan atau penurunan omzet, tetapi juga berdasarkan faktor yang memengaruhi hasil tersebut.
Isi laporan bulanan dapat mencakup beberapa data berikut:
- Total omzet dan jumlah transaksi selama satu bulan.
- Perbandingan hasil penjualan dengan bulan sebelumnya.
- Sumber traffic dan sumber penjualan terbesar.
- Produk atau layanan dengan performa terbaik dan terendah.
- Performa kampanye iklan, promo, konten, atau marketplace.
- Nilai conversion rate dari setiap channel penjualan.
- Biaya pemasaran dan estimasi return on investment.
- Kendala yang muncul selama proses penjualan.
- Rencana perbaikan strategi untuk bulan berikutnya.
Laporan yang dibuat secara konsisten akan memudahkan bisnis mengambil keputusan berbasis data. Dari hasil tersebut, Anda dapat menentukan channel mana yang perlu ditingkatkan, promosi mana yang layak dilanjutkan, serta bagian mana yang perlu diperbaiki agar penjualan online dapat tumbuh lebih efektif.
Rencana 30 Hari untuk Meningkatkan Penjualan Online
Rencana sederhana dapat membantu bisnis mulai tanpa harus menjalankan semua strategi sekaligus.
1. Minggu Pertama: Audit Penawaran dan Jalur Pembelian
Fokus pada fondasi.
Aktivitas:
- Rapikan profil media sosial.
- Perbarui katalog.
- Cek harga dan stok.
- Perbaiki foto produk.
- Buat FAQ.
- Aktifkan link WhatsApp atau marketplace.
- Periksa respons admin.
- Tentukan target pelanggan utama.
- Kumpulkan pertanyaan pelanggan.
2. Minggu Kedua: Buat Konten yang Mendukung Pembelian
Fokus pada aset konten.
Aktivitas:
- Buat dua Reels produk.
- Buat satu carousel edukatif.
- Kumpulkan testimoni.
- Buat Story interaktif.
- Siapkan konten FAQ.
- Buat CTA untuk setiap konten.
- Siapkan promo atau bundling yang jelas.
3. Minggu Ketiga: Distribusi dan Campaign
Fokus pada traffic relevan.
Aktivitas:
- Publikasikan konten sesuai jadwal.
- Bagikan konten utama melalui Story.
- Jalankan trial iklan sesuai tujuan.
- Kolaborasi dengan creator yang relevan.
- Gunakan kode promo.
- Pantau chat dan klik link.
- Follow-up calon pelanggan yang relevan.
4. Minggu Keempat: Evaluasi dan Optimasi
Fokus pada data dan perbaikan.
Aktivitas:
- Bandingkan konten dengan saves dan shares tertinggi.
- Catat sumber leads.
- Hitung transaksi dari setiap channel.
- Evaluasi CTA.
- Perbaiki halaman produk.
- Tentukan promo yang layak diulang.
- Siapkan konten berdasarkan pertanyaan pelanggan.
- Rencanakan aktivitas bulan berikutnya.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
1. Hanya Mengandalkan Diskon
Diskon memang dapat menarik perhatian pelanggan dalam waktu singkat. Namun, strategi pemasaran yang hanya berfokus pada potongan harga berisiko membuat bisnis terlihat seperti selalu harus murah agar bisa dipilih.
Beberapa dampak yang dapat terjadi apabila bisnis terlalu sering mengandalkan diskon:
- Margin keuntungan menjadi semakin kecil.
- Pelanggan hanya menunggu promo sebelum melakukan pembelian.
- Nilai produk atau jasa terlihat lebih rendah dibandingkan kompetitor.
- Bisnis kesulitan membangun loyalitas pelanggan jangka panjang.
- Harga normal menjadi terasa mahal setelah pelanggan terbiasa dengan promo.
Diskon sebaiknya digunakan sebagai strategi pendukung, bukan satu-satunya cara untuk meningkatkan penjualan. Anda dapat mengombinasikannya dengan bonus, bundling produk, layanan tambahan, program loyalitas, atau edukasi mengenai keunggulan produk.
2. Menggunakan Semua Channel Tanpa Prioritas
Banyak bisnis mencoba aktif di semua channel pemasaran sekaligus, seperti Instagram, TikTok, Facebook, marketplace, website, WhatsApp, email, hingga iklan berbayar. Namun, pendekatan ini sering membuat strategi menjadi tidak fokus dan sulit dikelola.
Beberapa masalah yang dapat muncul ketika semua channel digunakan tanpa prioritas:
- Konten tidak konsisten karena waktu dan sumber daya terbagi terlalu banyak.
- Anggaran promosi habis tanpa hasil yang terukur.
- Tim kesulitan menjaga kualitas komunikasi di setiap platform.
- Bisnis tidak mengetahui channel mana yang benar-benar menghasilkan penjualan.
- Audiens menerima pesan yang berbeda-beda dari setiap media.
Lebih baik pilih beberapa channel yang paling sesuai dengan target pasar dan tujuan bisnis. Setelah hasilnya terlihat, Anda dapat mengembangkan channel lain secara bertahap dengan strategi yang lebih matang.
3. Mengarahkan Traffic ke Halaman yang Tidak Siap
Traffic atau kunjungan yang tinggi tidak selalu menghasilkan penjualan. Salah satu penyebabnya adalah pengunjung diarahkan ke halaman yang belum siap untuk meyakinkan mereka melakukan tindakan.
Halaman tujuan promosi sebaiknya memiliki beberapa elemen berikut:
- Judul utama yang jelas dan langsung menjelaskan manfaat produk atau layanan.
- Informasi produk atau jasa yang lengkap dan mudah dipahami.
- Foto, video, atau visual yang mendukung kepercayaan calon pelanggan.
- Call to action yang jelas, seperti tombol pesan, daftar, beli sekarang, atau konsultasi.
- Testimoni, ulasan pelanggan, portofolio, atau bukti hasil.
- Informasi harga, promo, atau cara mendapatkan penawaran.
- Tampilan yang nyaman dibuka dari perangkat mobile.
Apabila halaman tujuan tidak memberikan informasi yang cukup, calon pelanggan dapat langsung keluar meskipun mereka sebelumnya tertarik dengan iklan atau konten yang dilihat.
4. Tidak Menyediakan Informasi Dasar
Calon pelanggan sering membatalkan niat membeli bukan karena produk kurang menarik, tetapi karena informasi dasar yang mereka butuhkan tidak tersedia. Mereka tidak ingin menghabiskan waktu untuk menanyakan hal-hal yang seharusnya sudah dijelaskan sejak awal.
Informasi dasar yang sebaiknya tersedia antara lain:
- Harga atau kisaran harga produk dan layanan.
- Detail produk, spesifikasi, ukuran, bahan, atau pilihan variasi.
- Cara pemesanan dan metode pembayaran.
- Estimasi pengerjaan atau waktu pengiriman.
- Area layanan atau jangkauan pengiriman.
- Garansi, kebijakan penukaran, atau ketentuan layanan.
- Kontak yang mudah dihubungi untuk konsultasi lebih lanjut.
Informasi yang lengkap membantu pelanggan membuat keputusan dengan lebih cepat. Selain itu, tim admin juga tidak perlu menjawab pertanyaan yang sama secara berulang.
5. Tidak Mencatat Sumber Penjualan
Tanpa pencatatan sumber penjualan, bisnis akan sulit mengetahui strategi pemasaran mana yang benar-benar efektif. Akibatnya, keputusan promosi sering dibuat berdasarkan asumsi, bukan data.
Beberapa sumber penjualan yang perlu dicatat meliputi:
- Instagram, TikTok, Facebook, atau media sosial lainnya.
- Iklan berbayar seperti Meta Ads, TikTok Ads, atau Google Ads.
- Website dan hasil pencarian Google.
- Marketplace seperti Shopee, Tokopedia, atau TikTok Shop.
- Referral dari pelanggan lama atau mitra bisnis.
- WhatsApp, email, atau chat langsung.
- Event, pameran, komunitas, maupun promosi offline.
Dengan mencatat sumber penjualan, bisnis dapat mengetahui channel yang menghasilkan prospek terbaik, biaya promosi yang paling efisien, serta strategi mana yang perlu ditingkatkan atau dihentikan.
Tingkatkan Penjualan Online Bersama Shanum Agency
Cara meningkatkan penjualan online yang lebih berkelanjutan dimulai dari fondasi yang jelas: target pelanggan, nilai produk, katalog rapi, konten relevan, social proof, jalur pembelian sederhana, follow-up, dan evaluasi berbasis data. Dengan pendekatan tersebut, bisnis dapat mengurangi promosi yang dilakukan berdasarkan asumsi dan lebih fokus pada aktivitas yang mendukung conversion.
Shanum Agency dapat membantu bisnis menyusun strategi marketing melalui perencanaan campaign, promosi produk, konten media sosial, influencer marketing, iklan digital, landing page, website, tracking leads, dan evaluasi performa. Perencanaan campaign dapat mencakup konsep konten, influencer, media sosial, website, landing page, iklan, hingga aktivitas follow-up kepada calon pelanggan.
Ingin produk Anda lebih dikenal luas dan meningkatkan penjualan melalui strategi promosi online yang profesional dan terukur?
Tim ahli kami siap membantu mulai dari perencanaan strategi, eksekusi campaign, hingga laporan performa lengkap.
- Jl. Cigadung Raya Tengah No.52 R6, RT.2, Cigadung, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung
- info@shanumagency.com
- WhatsApp: 0895-1798-2882
- Kunjungi Artikel lainnya : Tips Promosi Produk Online







