Cara Membuat Brief Influencer

Blog

Cara Membuat Brief Influencer untuk Campaign Bisnis yang Terarah

Cara membuat brief influencer adalah proses menyusun panduan kerja sama agar creator memahami tujuan campaign, produk yang dipromosikan, pesan utama, bentuk konten, call to action, jadwal publikasi, serta batasan informasi yang perlu dijaga. Brief yang baik membantu brand dan influencer bekerja dengan arah yang sama tanpa menghilangkan gaya komunikasi khas creator.

Bagi UMKM, brand lokal, bisnis kuliner, fashion, beauty, produk marketplace, event, hingga bisnis jasa, cara membuat brief influencer sangat penting agar campaign tidak hanya menghasilkan posting promosi tanpa tujuan yang jelas. Brief membantu mengurangi kesalahan informasi, memastikan promo dan kode voucher digunakan dengan benar, serta memudahkan evaluasi hasil setelah konten tayang.

Shanum Agency menjelaskan bahwa brief promosi influencer dapat mencakup profil bisnis, produk atau layanan, target audiens, tujuan campaign, keunggulan produk, pesan utama, promo, kode voucher, hashtag, CTA, jadwal publikasi, ketentuan revisi, hingga informasi yang tidak boleh disampaikan.

Apa Itu Brief Influencer?

Brief influencer adalah dokumen atau panduan kerja sama antara brand dan influencer, KOL, atau content creator. Dokumen ini berfungsi sebagai acuan sebelum creator membuat konten promosi.

Brief tidak harus panjang dan kaku. Yang terpenting, brief menjawab pertanyaan utama yang mungkin dimiliki creator:

  • Apa tujuan campaign?
  • Produk atau layanan apa yang dipromosikan?
  • Siapa target audiensnya?
  • Pesan apa yang perlu disampaikan?
  • Format konten apa yang diharapkan?
  • Kapan konten harus tayang?
  • CTA apa yang perlu digunakan?
  • Promo atau kode voucher apa yang berlaku?
  • Informasi apa yang wajib disebut?
  • Klaim apa yang tidak boleh dibuat?
  • Apakah konten perlu approval sebelum tayang?
  • Apakah brand boleh menggunakan ulang konten?

Campaign influencer yang lebih terstruktur umumnya mencakup pemilihan creator, konsep campaign, koordinasi konten, brief promosi, publikasi, dan monitoring hasil.

1. Brief Bukan Naskah yang Harus Dibaca Kata per Kata

Brief seharusnya memberi arah, bukan menghilangkan karakter creator. Audiens mengikuti influencer karena gaya bicara, sudut pandang, dan cara mereka membangun hubungan dengan komunitasnya.

Brand dapat menentukan informasi wajib, tetapi creator tetap perlu ruang untuk:

  • Menentukan gaya penyampaian.
  • Memilih alur video.
  • Menggunakan bahasa yang sesuai dengan followers.
  • Membuat hook yang sesuai karakter akun.
  • Menentukan angle cerita.
  • Menjelaskan pengalaman secara lebih natural.

Konten yang terlalu scripted berisiko terasa seperti iklan biasa dan kurang sesuai dengan gaya komunikasi creator.

2. Brief Berbeda dengan Kontrak Kerja Sama

Brief menjelaskan arah kreatif dan informasi campaign. Sementara itu, kontrak atau kesepakatan kerja sama lebih berfokus pada hak, kewajiban, biaya, durasi, deliverable, revisi, pembatalan, serta hak penggunaan konten.

Keduanya dapat digunakan bersama agar campaign lebih rapi.

Dokumen Fungsi Utama
Brief influencer Menjelaskan tujuan, pesan, produk, CTA, dan arahan konten
Kontrak atau agreement Menjelaskan fee, deliverable, hak penggunaan, deadline, revisi, serta ketentuan kerja sama
Timeline campaign Menjelaskan waktu pengiriman produk, draft, approval, publikasi, dan reporting
Laporan campaign Menunjukkan hasil reach, engagement, klik, leads, atau transaksi

Cara Membuat Brief Influencer

Mengapa Brief Influencer Penting untuk Campaign?

Brief membantu brand mengurangi risiko campaign berjalan tidak sesuai rencana. Tanpa brief, creator mungkin tidak mengetahui promo terbaru, target audience, detail produk, kode voucher, atau CTA yang sebenarnya diharapkan.

1. Membantu Creator Memahami Tujuan Campaign

Setiap campaign memiliki tujuan berbeda. Ada brand yang ingin memperkenalkan produk baru, ada yang ingin meningkatkan traffic, dan ada pula yang ingin mendorong transaksi melalui kode promo.

Tujuan campaign akan memengaruhi cara creator membuat konten.

Tujuan Campaign Fokus Konten Influencer KPI yang Dapat Dipantau
Awareness Perkenalan brand, produk, outlet, atau event Reach, impressions, views
Engagement Polling, Q&A, giveaway, komentar Likes, comments, saves, shares
Traffic CTA ke link, katalog, marketplace, WhatsApp Klik link, landing page visits
Leads CTA konsultasi atau form Chat, Direct Message, form masuk
Sales Kode promo, bundling, promo terbatas Checkout, transaksi, kode voucher
Social proof Review, tutorial, pengalaman penggunaan Saves, shares, pertanyaan produk

Shanum Agency menekankan bahwa campaign influencer perlu memiliki KPI yang jelas, seperti reach, impressions, engagement rate, CTR, dan conversion, agar hasilnya dapat dievaluasi secara terukur.

2. Mengurangi Kesalahan Informasi Produk

Creator tidak selalu mengetahui detail produk seperti tim internal brand. Tanpa panduan yang jelas, ada risiko informasi harga, ukuran, bahan, promo, lokasi, ketersediaan, atau cara pemesanan disampaikan secara kurang tepat.

Brief membantu memastikan creator mengetahui:

  • Nama produk yang benar.
  • Manfaat utama.
  • Pilihan varian.
  • Harga atau kisaran harga.
  • Promo yang sedang aktif.
  • Cara penggunaan.
  • Lokasi atau area layanan.
  • Ketentuan pengiriman.
  • Link pembelian.
  • Kode promo.
  • Informasi yang tidak boleh diklaim.

3. Membantu Brand Mengukur Hasil Campaign

Brief yang baik mencantumkan CTA dan metode tracking. Dengan begitu, brand dapat melihat apakah campaign menghasilkan traffic, leads, atau transaksi.

Contoh metode tracking:

  • Kode promo khusus creator.
  • Link khusus.
  • UTM parameter.
  • Landing page campaign.
  • Link WhatsApp khusus.
  • Formulir dengan sumber campaign.
  • Catatan admin saat calon pelanggan masuk.

Tanpa tracking, bisnis hanya dapat menilai campaign dari likes atau views, padahal tujuan sebenarnya mungkin traffic, leads, atau penjualan.

4. Melindungi Reputasi Brand dan Creator

Brief membantu brand menetapkan batas komunikasi yang sesuai. Hal ini penting untuk mencegah klaim berlebihan, informasi yang tidak akurat, atau konten yang tidak sesuai dengan nilai brand.

Creator juga terbantu karena memahami apa yang boleh dan tidak boleh disampaikan sejak awal.

Persiapan Sebelum Membuat Brief Influencer

Sebelum menulis brief, brand perlu memiliki data dasar yang jelas. Brief tidak akan efektif bila tujuan, produk, promo, atau jalur pembelian belum siap.

1. Tentukan Target Audiens Campaign

Target audiens membantu creator memahami siapa yang sedang diajak berbicara.

Informasi yang dapat dimasukkan:

  • Rentang usia.
  • Lokasi.
  • Minat.
  • Gaya hidup.
  • Daya beli.
  • Kebiasaan belanja.
  • Masalah yang ingin diselesaikan.
  • Platform yang sering digunakan.
  • Alasan mereka membutuhkan produk.

Contoh target yang terlalu umum:

Semua orang yang suka skincare.

Contoh target yang lebih jelas:

Perempuan usia 20–35 tahun di kota besar yang mencari skincare dengan panduan penggunaan sederhana untuk rutinitas harian.

Semakin jelas targetnya, semakin mudah creator memilih angle konten yang relevan.

2. Pastikan Produk dan Promo Sudah Siap

Jangan mengirim brief sebelum detail produk siap. Creator perlu menerima informasi yang benar agar tidak salah menyampaikan kepada audiens.

Pastikan informasi berikut sudah final:

  • Nama produk atau layanan.
  • Harga.
  • Promo.
  • Kode voucher.
  • Masa berlaku promo.
  • Stok atau kuota.
  • Variasi produk.
  • Link pembelian.
  • Ketentuan pengiriman.
  • Area layanan.
  • Syarat dan ketentuan promo.
  • Kontak admin.

Campaign influencer dapat mendatangkan pertanyaan dan traffic dalam waktu singkat. Karena itu, katalog, link, stok, serta admin perlu siap sebelum konten tayang.

3. Tentukan Jalur Conversion

Sebelum meminta creator membuat CTA, tentukan ke mana audiens akan diarahkan.

Pilihan jalur conversion dapat berupa:

  • WhatsApp Business.
  • Marketplace.
  • Website.
  • Landing page.
  • Form konsultasi.
  • Halaman registrasi event.
  • Link katalog.
  • Outlet fisik.
  • Direct Message Instagram.

Pilih satu jalur utama agar audiens tidak bingung. Terlalu banyak CTA dapat mengurangi fokus campaign.

Cara Membuat Brief Influencer

Cara Membuat Brief Influencer yang Lengkap

Berikut langkah-langkah praktis dalam cara membuat brief influencer untuk campaign bisnis.

Tentukan Informasi Dasar Campaign

Bagian awal brief perlu menjelaskan konteks campaign secara singkat. Creator perlu memahami brand sebelum membuat konten.

1. Tulis Profil Singkat Brand

Profil brand tidak perlu terlalu panjang. Jelaskan secara ringkas:

  • Nama bisnis.
  • Bidang usaha.
  • Produk atau layanan utama.
  • Nilai atau karakter brand.
  • Target pelanggan.
  • Keunggulan utama.
  • Kanal resmi bisnis.

Contoh:

[Nama Brand] adalah brand makanan praktis yang menyediakan frozen food untuk keluarga, mahasiswa, dan pekerja yang membutuhkan pilihan menu mudah disajikan. Fokus kami adalah rasa, kemudahan penyajian, serta pilihan varian untuk kebutuhan harian.

Profil singkat ini membantu creator memahami konteks brand dan menyesuaikan gaya penyampaian.

2. Jelaskan Latar Belakang Campaign

Latar belakang membantu creator memahami alasan campaign dibuat.

Contoh:

Campaign ini dibuat untuk memperkenalkan varian menu baru kepada audiens usia 18–35 tahun di Bandung dan sekitarnya. Brand ingin meningkatkan awareness sekaligus mendorong audiens menggunakan kode promo selama periode campaign.

Atau:

Campaign ini bertujuan memperkenalkan layanan konsultasi website bagi UMKM yang belum memiliki aset digital untuk menjelaskan produk, portofolio, dan kontak bisnis secara profesional.

3. Tentukan Tujuan Utama Campaign

Pilih satu tujuan utama agar brief tidak terlalu melebar.

Contoh tujuan:

  • Memperkenalkan produk baru.
  • Meningkatkan kunjungan ke outlet.
  • Mendorong penggunaan kode promo.
  • Mengarahkan traffic ke marketplace.
  • Mengumpulkan leads konsultasi.
  • Meningkatkan pendaftaran event.
  • Membangun social proof melalui review.
  • Menghasilkan konten untuk digunakan ulang.

Jangan menulis “meningkatkan awareness, engagement, traffic, leads, dan sales” sebagai satu-satunya tujuan tanpa menentukan prioritas. Creator akan lebih mudah bekerja jika mengetahui hasil utama yang diharapkan.

Jelaskan Produk atau Layanan secara Spesifik

Creator perlu memahami produk lebih dari sekadar nama dan foto. Berikan informasi yang cukup agar konten tetap akurat.

1. Cantumkan Detail Produk

Informasi produk dapat mencakup:

  • Nama produk.
  • Fungsi atau manfaat utama.
  • Bahan atau spesifikasi.
  • Varian.
  • Ukuran.
  • Cara penggunaan.
  • Harga.
  • Isi paket.
  • Ketentuan pengiriman.
  • Ketersediaan.
  • Produk yang direkomendasikan untuk campaign.

Contoh format sederhana:

Elemen Informasi Produk
Nama produk Paket Frozen Food Harian
Target pengguna Keluarga sibuk, mahasiswa, pekerja
Manfaat utama Praktis untuk kebutuhan makan harian
Varian Nugget, dimsum, sosis, chicken katsu
Promo Diskon 10% dengan kode CREATOR10
Periode promo 1–14 Agustus 2026
CTA Pesan melalui link katalog atau WhatsApp
Catatan Tidak mengklaim produk sebagai pengganti makanan bergizi seimbang

2. Jelaskan Keunggulan yang Dapat Dibuktikan

Keunggulan produk perlu berbasis fakta. Hindari membuat daftar klaim yang terlalu umum atau sulit dibuktikan.

Contoh keunggulan yang lebih aman:

  • Tersedia dalam beberapa varian.
  • Dapat dipesan melalui marketplace.
  • Memiliki ukuran atau pilihan tertentu.
  • Menggunakan bahan yang tercantum pada kemasan.
  • Memiliki proses pemesanan yang jelas.
  • Dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu.
  • Tersedia untuk area layanan yang disebutkan.

Hindari arahan seperti:

  • Produk paling bagus.
  • Pasti cocok untuk semua orang.
  • Dijamin berhasil.
  • Hasil instan.
  • Produk paling aman tanpa bukti.
  • Lebih unggul dari semua kompetitor.

3. Jelaskan Informasi yang Tidak Boleh Disampaikan

Bagian ini penting untuk menghindari risiko klaim yang keliru atau berlebihan.

Contoh:

  • Jangan menyatakan produk menyembuhkan kondisi tertentu.
  • Jangan menyebut produk cocok untuk semua jenis kulit.
  • Jangan menjanjikan hasil instan.
  • Jangan mengubah harga atau periode promo.
  • Jangan menyampaikan stok selalu tersedia.
  • Jangan membuat perbandingan negatif dengan brand lain.
  • Jangan menyebut produk halal, organik, atau bersertifikat apabila informasi tersebut tidak tersedia secara resmi.

Cara Membuat Brief Influencer

Tentukan Pesan Utama dan Angle Konten

Pesan utama adalah hal yang ingin diingat audiens setelah melihat konten creator.

1. Buat Pesan Utama yang Ringkas

Pesan utama sebaiknya sederhana, mudah dipahami, dan relevan dengan target audiens.

Contoh pesan utama:

  • Menu praktis untuk hari yang padat.
  • Rekomendasi cafe untuk kerja dan belajar.
  • Skincare dengan cara penggunaan yang mudah dipahami.
  • Website untuk membantu UMKM tampil lebih profesional.
  • Pilihan outfit nyaman untuk aktivitas harian.
  • Promo khusus untuk pelanggan baru.

Pesan utama tidak harus menjadi slogan resmi. Yang penting, seluruh konten campaign tetap mengarah pada ide yang sama.

2. Berikan Beberapa Pilihan Angle

Jangan meminta semua creator membuat konten yang sama persis. Berikan beberapa pilihan angle agar konten terasa lebih alami dan tidak repetitif.

Contoh angle untuk campaign kuliner:

  • Review pengalaman pertama mencoba menu.
  • Rekomendasi menu favorit.
  • Konten makan bersama teman.
  • Video suasana outlet.
  • Konten menu praktis untuk keluarga.
  • Promo kode voucher.
  • Konten “menu apa yang cocok untuk pemula?”

Contoh angle untuk bisnis jasa:

  • Cerita masalah yang sering dialami target pelanggan.
  • Penjelasan proses kerja.
  • Studi kasus singkat.
  • Tips sebelum memilih jasa.
  • Pengalaman konsultasi.
  • FAQ layanan.
  • Cara memulai kerja sama.

3. Tentukan Nada Komunikasi

Tone of voice membantu creator memahami karakter brand.

Contoh pilihan tone:

  • Informatif dan profesional.
  • Santai dan dekat.
  • Premium dan elegan.
  • Ramah keluarga.
  • Modern dan kreatif.
  • Lucu tetapi tidak berlebihan.
  • Edukatif dan mudah dipahami.

Jangan hanya menulis “buat konten yang menarik.” Jelaskan secara lebih spesifik bagaimana brand ingin dipersepsikan audiens.

Tetapkan Deliverable Konten dengan Jelas

Deliverable adalah daftar output yang perlu disediakan creator. Bagian ini perlu dibuat jelas agar tidak terjadi perbedaan pemahaman.

1. Tentukan Platform dan Format Konten

Contoh deliverable:

Platform Format Contoh Deliverable
Instagram Reels Satu video review atau tutorial
Instagram Story Tiga frame Story dengan tag dan CTA
Instagram Feed Satu foto atau carousel produk
TikTok Video Satu video pengalaman penggunaan
YouTube Short video Satu video singkat dengan CTA
Live Kolaborasi Sesi tanya jawab atau demo produk
Event Event visit Dokumentasi kehadiran dan review

Jelaskan format secara detail, misalnya:

  • Durasi minimum atau maksimum video.
  • Jumlah frame Story.
  • Rasio video.
  • Tag akun brand.
  • Penyebutan nama brand.
  • Kode promo.
  • Hashtag jika diperlukan.
  • Tautan yang perlu dipasang.
  • Masa tayang Story.
  • Periode konten perlu tetap tersedia.

2. Tetapkan Informasi Wajib

Informasi wajib membantu memastikan pesan penting tidak terlewat.

Contoh:

  • Sebut nama brand.
  • Tampilkan produk secara jelas.
  • Jelaskan manfaat utama.
  • Tampilkan kode promo.
  • Tag akun Instagram brand.
  • Gunakan CTA ke WhatsApp atau katalog.
  • Sebut periode promo.
  • Cantumkan lokasi outlet.
  • Jelaskan cara pemesanan.
  • Gunakan paid partnership label bila berlaku.

Buat daftar ini singkat dan prioritas. Terlalu banyak poin wajib dapat membuat konten terasa seperti daftar iklan.

3. Tentukan Ruang Kreatif Creator

Setelah informasi wajib ditentukan, jelaskan bagian yang dapat diputuskan creator.

Contoh:

Creator dapat menentukan gaya penyampaian, alur cerita, musik, visual, dan angle review selama informasi wajib, promo, CTA, serta disclosure campaign tetap tercantum dengan benar.

Pendekatan ini membantu brand menjaga akurasi tanpa menghilangkan keaslian konten creator.

Cara Membuat Brief Influencer

Buat CTA yang Sesuai Tujuan Campaign

CTA atau call to action adalah arahan tindakan yang diharapkan dilakukan audiens setelah melihat konten. CTA yang tepat membantu audiens memahami langkah berikutnya, sekaligus membuat performa campaign lebih terukur.

1. Gunakan Satu CTA Utama

Fokuskan setiap konten pada satu tindakan utama. Terlalu banyak pilihan dapat membuat audiens bingung dan akhirnya tidak melakukan apa pun.

Contoh:

  • Campaign awareness: Follow akun kami untuk tips lainnya
  • Campaign engagement: Tulis pendapatmu di kolom komentar
  • Campaign leads: Klik link bio untuk konsultasi
  • Campaign sales: Chat sekarang untuk cek harga dan promo

Pastikan CTA selaras dengan tujuan campaign, bukan sekadar ajakan yang terdengar menarik.

2. Pastikan CTA Mengarah ke Jalur yang Siap

Jangan mengarahkan audiens ke halaman, WhatsApp, formulir, atau admin yang belum siap menerima respons. Saat audiens sudah tertarik, proses lanjutan harus mudah, cepat, dan jelas.

Sebelum campaign berjalan, pastikan:

  • Link CTA aktif dan mengarah ke halaman yang relevan.
  • Admin siap merespons chat atau pertanyaan masuk.
  • Informasi harga, promo, dan stok sudah tersedia.
  • Landing page atau formulir mudah diakses dari perangkat mobile.

CTA yang kuat bukan hanya mengajak audiens bertindak, tetapi juga memastikan mereka dapat menyelesaikan tindakan tersebut tanpa hambatan.

Atur Timeline, Draft, dan Approval

Timeline membantu brand dan creator memahami urutan kerja sama sejak awal.

1. Buat Timeline Campaign

Contoh timeline sederhana:

Tahap Aktivitas Deadline
Persiapan Brief dikirim dan disetujui Hari 1
Produk Produk diterima creator Hari 2–3
Produksi Creator membuat konten Hari 4–6
Review Brand memberikan feedback Hari 7
Finalisasi Konten final disetujui Hari 8
Publikasi Konten tayang Hari 9
Monitoring Brand dan creator mengumpulkan Insight Hari 10–16
Reporting Rekap hasil campaign Hari 17

Timeline dapat disesuaikan dengan kompleksitas campaign, jumlah creator, jenis produk, dan kebutuhan produksi.

2. Tentukan Sistem Review Konten

Brand perlu menentukan sejak awal apakah draft perlu dikirim sebelum publikasi.

Review sebaiknya fokus pada:

  • Ketepatan informasi produk.
  • Harga dan promo.
  • Kode voucher.
  • CTA.
  • Tag akun brand.
  • Link.
  • Disclosure paid partnership.
  • Klaim yang tidak sesuai.
  • Kesalahan faktual.

Hindari revisi berlebihan yang hanya bertujuan menyeragamkan gaya creator. Fokus review pada informasi, kepatuhan, dan tujuan campaign.

3. Tentukan Batas Waktu Feedback

Agar campaign tidak tertunda, cantumkan batas waktu respons.

Contoh:

Brand akan memberikan feedback maksimal 1 x 24 jam setelah draft diterima. Bila tidak ada feedback dalam periode tersebut, draft dianggap dapat dilanjutkan ke tahap publikasi sesuai jadwal.

Ketentuan ini perlu disesuaikan dengan kesepakatan kedua pihak.

Cara Membuat Brief Influencer

Atur Disclosure Paid Partnership dan Kepatuhan Konten

Kerja sama influencer yang melibatkan pembayaran, produk gratis, komisi affiliate, jasa, atau bentuk kompensasi lain dapat termasuk branded content.

Meta mendefinisikan branded content sebagai konten creator atau publisher yang menampilkan atau dipengaruhi partner bisnis sebagai pertukaran nilai.

1. Gunakan Paid Partnership Label Bila Berlaku

Meta menyatakan bahwa branded content di Instagram harus diungkapkan dengan label paid partnership pada Feed, Stories, Live, Reels, dan video Instagram.

Masukkan ketentuan berikut dalam brief:

  • Creator perlu menggunakan paid partnership label bila kerja sama memenuhi ketentuan branded content.
  • Creator perlu menandai akun bisnis yang benar.
  • Brand dan creator perlu menyetujui bentuk kompensasi secara transparan.
  • Kode promo atau affiliate link perlu dicantumkan bila digunakan.
  • Informasi sponsor atau kerja sama harus sesuai ketentuan platform.

Transparansi membantu audiens memahami bahwa terdapat hubungan komersial antara creator dan brand.

2. Cantumkan Larangan Klaim Berlebihan

Untuk produk tertentu, terutama kecantikan, kesehatan, keuangan, makanan, atau layanan profesional, brief perlu mengatur klaim dengan lebih ketat.

Contoh larangan:

  • Tidak menjanjikan hasil instan.
  • Tidak menyebut produk dapat menyembuhkan penyakit.
  • Tidak mengatakan aman untuk semua orang tanpa dasar.
  • Tidak menyebut “paling murah” atau “nomor satu” tanpa bukti.
  • Tidak membuat perbandingan yang tidak dapat diverifikasi.
  • Tidak menyatakan promo melebihi periode yang berlaku.
  • Tidak mengklaim pengalaman yang belum dialami creator.

3. Siapkan Ketentuan untuk Partnership Ads

Branded content ads kini disebut partnership ads. Format ini memungkinkan advertiser menjalankan iklan bersama creator, brand, atau bisnis lain.

Bila brand ingin menggunakan konten creator sebagai materi iklan, cantumkan dalam brief atau agreement:

  • Apakah brand dapat menggunakan konten untuk ads.
  • Periode penggunaan konten.
  • Platform penggunaan.
  • Apakah creator perlu memberikan partnership ad code.
  • Apakah ada biaya tambahan.
  • Apakah konten boleh diedit.
  • Apakah brand dapat menggunakan video di landing page atau katalog.

Instagram menyediakan partnership ad code yang dapat dibuat creator untuk mengizinkan advertiser mempromosikan konten mereka.

Jelaskan Hak Penggunaan Konten

Hak penggunaan konten sering dilupakan dalam campaign influencer. Padahal, creator memiliki hak atas karya yang dibuatnya kecuali ada kesepakatan lain.

1. Tentukan Bentuk Penggunaan Ulang

Bahas sejak awal apakah brand dapat:

  • Repost pada Instagram brand.
  • Membagikan ulang melalui Story.
  • Menyimpan konten di Highlight.
  • Menggunakan video pada website.
  • Menampilkan review pada landing page.
  • Menggunakan foto pada katalog.
  • Menjalankan iklan.
  • Menggunakan konten pada marketplace.
  • Mengedit potongan video untuk kebutuhan promosi.
  • Menyimpan file asli.

2. Tentukan Durasi Penggunaan

Selain bentuk penggunaan ulang, brand juga perlu menentukan berapa lama konten creator dapat digunakan. Durasi penggunaan akan memengaruhi nilai kerja sama karena semakin panjang masa pakai konten, semakin besar pula potensi nilai komersial yang diterima brand dari karya creator tersebut.

Hal yang perlu disepakati terkait durasi penggunaan konten antara lain:

  • Periode penggunaan konten, misalnya 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun.
  • Apakah hak penggunaan berlaku hanya untuk konten organik atau juga mencakup iklan berbayar.
  • Ketentuan perpanjangan penggunaan apabila campaign masih ingin dijalankan setelah periode awal berakhir.
  • Biaya tambahan untuk perpanjangan hak pakai konten.
  • Batas waktu penggunaan konten pada website, marketplace, maupun materi promosi offline.
  • Ketentuan penghapusan atau penghentian penggunaan konten setelah masa kerja sama selesai.
  • Hak creator untuk menggunakan kembali konten tersebut pada portofolio atau media sosial pribadi.

Dengan durasi penggunaan yang jelas, kedua pihak dapat menghindari penggunaan konten tanpa izin setelah masa campaign berakhir. Hal ini juga membuat kerja sama influencer menjadi lebih profesional, transparan, dan adil bagi brand maupun creator.

Cara Membuat Brief Influencer

Masukkan Tracking dan Format Laporan

Brief yang baik tidak berhenti pada publikasi konten. Brand perlu menjelaskan data apa yang perlu dikumpulkan setelah campaign selesai.

1. Tentukan Metode Tracking

Gunakan satu atau beberapa metode berikut:

  • Kode promo unik.
  • Link khusus creator.
  • UTM parameter.
  • Landing page campaign.
  • Link WhatsApp khusus.
  • Formulir dengan kolom sumber referral.
  • Data marketplace.
  • Rekap chat admin.
  • Screenshot Insight creator.

Meta Creator Marketplace dirancang untuk membantu brand dan creator terhubung untuk branded content serta partnership ads, termasuk mengevaluasi creator dengan data yang tersedia pada ekosistem Meta.

2. Minta Insight Sesuai Deliverable

Setiap deliverable memiliki jenis data performa yang berbeda. Oleh karena itu, brand perlu menjelaskan insight apa saja yang harus dikirimkan setelah konten dipublikasikan agar hasil campaign dapat dianalisis secara menyeluruh.

Insight yang dapat diminta sesuai jenis deliverable antara lain:

  • Jumlah reach dan impressions untuk mengetahui seberapa luas konten menjangkau audiens.
  • Jumlah likes, comments, shares, saves, atau reactions sebagai indikator engagement.
  • Jumlah views dan durasi tontonan untuk konten video, Reels, TikTok, atau YouTube.
  • Jumlah klik link pada bio, story, caption, atau tombol CTA yang digunakan.
  • Jumlah penggunaan kode promo atau transaksi dari affiliate link.
  • Screenshot insight dari platform sebagai bukti performa konten.
  • Data demografi audiens, seperti usia, gender, lokasi, dan waktu audiens paling aktif.
  • Insight komentar atau respons audiens yang relevan terhadap produk, layanan, atau pesan campaign.
  • Informasi kendala yang muncul selama proses publikasi maupun setelah konten tayang.

Permintaan insight sebaiknya disesuaikan dengan tujuan utama campaign. Campaign awareness tentu lebih menitikberatkan pada reach dan impressions, sedangkan campaign conversion perlu fokus pada klik, leads, penggunaan kode promo, hingga jumlah transaksi.

3. Buat Template Laporan Campaign

Template laporan campaign membantu semua pihak mengumpulkan data dalam format yang seragam. Dengan format yang rapi, brand dapat membandingkan performa antar konten, antar kreator, maupun antar periode campaign dengan lebih mudah.

Isi utama yang dapat dimasukkan ke dalam template laporan campaign meliputi:

  • Nama campaign, periode pelaksanaan, serta tujuan utama campaign.
  • Nama partner, influencer, kreator, media, atau channel yang terlibat.
  • Jenis dan jumlah deliverable yang telah dipublikasikan.
  • Tanggal serta tautan publikasi untuk setiap konten.
  • Target KPI yang ditetapkan sebelum campaign berjalan.
  • Hasil performa aktual, seperti reach, impressions, engagement, views, clicks, leads, atau sales.
  • Data penggunaan link tracking, kode promo, affiliate link, atau landing page.
  • Perbandingan antara target dan hasil aktual campaign.
  • Catatan insight audiens, respons positif, pertanyaan umum, maupun potensi kendala.
  • Rekomendasi optimasi untuk campaign lanjutan berdasarkan hasil yang diperoleh.

Template laporan yang konsisten akan memudahkan brand melihat pola performa campaign dari waktu ke waktu. Hasil evaluasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan channel yang paling efektif, format konten yang paling disukai audiens, serta strategi yang perlu ditingkatkan pada campaign berikutnya.

Contoh Template Brief Influencer yang Siap Digunakan

Berikut format dasar yang dapat disesuaikan untuk berbagai jenis campaign.

1. Informasi Campaign

Bagian ini berisi gambaran utama mengenai campaign yang akan dijalankan. Tujuannya agar influencer memahami konteks kerja sama, target campaign, serta periode publikasi konten.

Informasi yang dapat dicantumkan meliputi:

  • Nama campaign atau nama program promosi.
  • Periode campaign dan jadwal publikasi konten.
  • Platform utama yang digunakan, seperti Instagram, TikTok, YouTube, atau marketplace.
  • Tujuan campaign, misalnya meningkatkan awareness, engagement, traffic, leads, atau penjualan.
  • Target audiens yang ingin dijangkau.
  • Hashtag utama atau keyword campaign yang perlu digunakan.

Dengan informasi campaign yang jelas, influencer dapat menyesuaikan gaya penyampaian konten agar tetap relevan dengan objektif brand.

2. Latar Belakang Brand

Bagian ini membantu influencer memahami siapa brand Anda, nilai yang dibawa, serta posisi brand di mata target pasar. Informasi ini penting agar konten yang dibuat tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga mampu menyampaikan karakter brand dengan tepat.

Beberapa poin yang dapat dijelaskan antara lain:

  • Profil singkat brand dan bidang bisnis yang dijalankan.
  • Cerita atau alasan brand didirikan.
  • Visi, misi, atau nilai utama brand.
  • Karakter komunikasi brand, seperti profesional, santai, premium, edukatif, atau friendly.
  • Target pasar utama yang ingin dijangkau.
  • Keunggulan brand dibandingkan kompetitor.

Latar belakang brand yang lengkap akan membantu influencer membuat konten yang terasa lebih natural dan selaras dengan identitas bisnis Anda.

3. Informasi Produk atau Layanan

Influencer perlu memahami produk atau layanan secara menyeluruh sebelum membuat konten. Pastikan informasi yang diberikan cukup detail agar mereka dapat menjelaskan manfaat produk dengan akurat.

Informasi yang sebaiknya dicantumkan meliputi:

  • Nama produk atau layanan yang akan dipromosikan.
  • Fungsi utama dan manfaat yang ditawarkan.
  • Keunggulan produk dibandingkan pilihan lain di pasaran.
  • Bahan, fitur, spesifikasi, atau varian yang tersedia.
  • Harga produk atau rentang harga apabila diperbolehkan untuk disebutkan.
  • Cara penggunaan atau cara melakukan pemesanan.
  • Promo, diskon, bundling, atau kode khusus campaign.
  • Link website, marketplace, WhatsApp, atau landing page tujuan.

Semakin jelas informasi produk yang diberikan, semakin kecil kemungkinan influencer menyampaikan informasi yang kurang tepat kepada audiens.

4. Pesan dan Angle Konten

Bagian ini berfungsi sebagai arahan utama mengenai pesan yang perlu disampaikan dalam konten. Brand dapat memberikan poin penting tanpa membatasi kreativitas influencer secara berlebihan.

Beberapa arahan yang dapat dimasukkan antara lain:

  • Pesan utama yang harus tersampaikan kepada audiens.
  • Masalah pelanggan yang dapat diangkat dalam konten.
  • Manfaat produk yang perlu ditekankan.
  • Angle konten yang disarankan, seperti review, tutorial, unboxing, before-after, rekomendasi, edukasi, atau pengalaman pribadi.
  • Call to action yang perlu digunakan.
  • Kata kunci, hashtag, atau mention akun brand.
  • Tone konten yang diharapkan, seperti santai, informatif, persuasif, premium, atau humoris.

Contoh arahan pesan:

  • Tunjukkan bagaimana produk membantu menyelesaikan masalah sehari-hari.
  • Ceritakan pengalaman penggunaan produk secara jujur dan natural.
  • Ajak audiens untuk mengunjungi link atau menghubungi admin untuk informasi lebih lanjut.
  • Tekankan promo atau keuntungan khusus selama periode campaign.

5. Deliverable

Deliverable adalah daftar hasil kerja yang perlu dibuat dan dipublikasikan oleh influencer. Bagian ini perlu ditulis secara spesifik agar kedua pihak memiliki ekspektasi yang sama.

Hal-hal yang perlu dijelaskan dalam deliverable meliputi:

  • Jenis konten yang harus dibuat, seperti video Reels, TikTok, Instagram Story, feed post, carousel, atau YouTube video.
  • Jumlah konten yang harus diproduksi.
  • Durasi minimum atau maksimum untuk video.
  • Jumlah frame untuk Instagram Story.
  • Format konten, seperti portrait, landscape, atau ukuran khusus.
  • Jadwal upload setiap konten.
  • Kewajiban mention akun brand.
  • Kewajiban mencantumkan hashtag, link, kode promo, atau call to action.
  • Ketentuan pengiriman draft sebelum publikasi apabila diperlukan.

Contoh deliverable:

  • 1 video TikTok berdurasi minimal 30 detik.
  • 1 Instagram Reels dengan mention akun brand.
  • 3 Instagram Story yang berisi pengenalan produk, pengalaman penggunaan, dan call to action.
  • Caption dengan hashtag campaign dan link pembelian.
  • Pengiriman insight konten maksimal 7 hari setelah publikasi.

6. Informasi Wajib

Bagian ini memuat informasi yang harus dicantumkan dalam konten agar pesan campaign tetap konsisten dan tidak ada detail penting yang terlewat.

Informasi wajib dapat mencakup:

  • Nama brand dan nama produk.
  • Akun media sosial brand yang perlu di-mention.
  • Hashtag campaign.
  • Kode promo atau voucher khusus.
  • Link pembelian atau link landing page.
  • Call to action tertentu.
  • Klaim produk yang sudah disetujui oleh brand.
  • Informasi promo, periode diskon, atau syarat dan ketentuan.
  • Disclosure kerja sama, seperti #ad, #sponsored, atau penanda lain sesuai ketentuan platform.

Pastikan informasi wajib disampaikan secara jelas, tetapi tetap fleksibel agar influencer dapat mengemasnya dengan gaya konten mereka sendiri.

7. Informasi yang Tidak Boleh Disampaikan

Bagian ini penting untuk menghindari kesalahan komunikasi, klaim berlebihan, atau pernyataan yang berpotensi menimbulkan masalah bagi brand.

Beberapa larangan yang dapat dicantumkan antara lain:

  • Tidak membuat klaim yang tidak didukung oleh data atau bukti.
  • Tidak membandingkan brand secara negatif dengan kompetitor.
  • Tidak menyampaikan harga, promo, atau informasi yang belum dikonfirmasi.
  • Tidak menggunakan bahasa yang menyinggung kelompok tertentu.
  • Tidak menyebutkan manfaat produk di luar informasi resmi dari brand.
  • Tidak menggunakan visual, musik, atau materi berhak cipta tanpa izin.
  • Tidak menampilkan produk kompetitor dalam konten campaign.
  • Tidak membuat konten yang bertentangan dengan nilai atau citra brand.
  • Tidak mengedit informasi produk sehingga berpotensi menyesatkan audiens.

Dengan batasan yang jelas, influencer dapat tetap kreatif tanpa keluar dari arah komunikasi yang sudah ditentukan.

8. Ketentuan Review dan Hak Penggunaan

Bagian ini menjelaskan proses review konten serta hak brand untuk menggunakan ulang materi yang dibuat oleh influencer. Ketentuan ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman setelah konten dipublikasikan.

Hal-hal yang dapat dicantumkan meliputi:

  • Apakah influencer wajib mengirim draft sebelum posting.
  • Batas waktu pengiriman draft.
  • Jumlah maksimal revisi yang dapat diberikan brand.
  • Waktu approval dari pihak brand.
  • Ketentuan apabila konten perlu direvisi.
  • Durasi konten harus tetap tayang di akun influencer.
  • Hak brand untuk repost konten di media sosial.
  • Hak penggunaan konten untuk kebutuhan iklan, website, marketplace, atau materi promosi.
  • Durasi hak penggunaan konten.
  • Ketentuan tambahan apabila konten digunakan untuk paid ads.

Contoh ketentuan:

  • Draft video wajib dikirim paling lambat 3 hari sebelum jadwal publikasi.
  • Brand dapat memberikan maksimal 2 kali revisi minor.
  • Konten wajib tetap tayang minimal 90 hari setelah dipublikasikan.
  • Brand memiliki hak untuk repost konten di media sosial organik.
  • Penggunaan konten untuk iklan berbayar memerlukan persetujuan atau biaya tambahan sesuai kesepakatan.

9. Reporting

Bagian reporting berisi ketentuan laporan performa konten setelah campaign berjalan. Data ini dibutuhkan brand untuk mengevaluasi hasil kerja sama dan menentukan strategi campaign berikutnya.

Informasi yang perlu disampaikan dalam reporting meliputi:

  • Batas waktu pengiriman laporan setelah konten tayang.
  • Format laporan, seperti screenshot insight, spreadsheet, atau laporan PDF.
  • Metrik yang perlu dilaporkan.
  • Link konten yang sudah dipublikasikan.
  • Bukti publikasi sesuai deliverable.
  • Ringkasan performa dan respons audiens apabila diperlukan.

Metrik yang dapat diminta dalam laporan antara lain:

  • Jumlah views atau reach.
  • Impressions.
  • Likes, comments, shares, dan saves.
  • Engagement rate.
  • Jumlah klik link.
  • Jumlah penggunaan kode promo.
  • Jumlah leads atau transaksi yang berasal dari campaign.
  • Insight audiens, seperti usia, gender, dan lokasi apabila tersedia.

Reporting yang lengkap membantu brand menilai efektivitas influencer, performa konten, serta potensi kerja sama lanjutan pada campaign berikutnya.

Perbedaan Brief untuk Campaign Awareness dan Campaign Sales

Brief influencer perlu disesuaikan dengan tujuan campaign. Campaign awareness dan campaign sales memiliki fokus yang berbeda.

1. Brief untuk Campaign Awareness

Campaign awareness lebih fokus memperkenalkan produk atau brand kepada audiens baru.

Elemen yang diprioritaskan:

  • Cerita brand.
  • Produk atau layanan utama.
  • Visual menarik.
  • Kunjungan outlet.
  • Pengalaman creator.
  • Tag akun brand.
  • Ajakan follow akun.
  • Reach dan video views.

Contoh CTA:

Follow akun [Nama Brand] untuk melihat update produk dan promo berikutnya.

2. Brief untuk Campaign Sales

Campaign sales perlu lebih detail karena audiens diarahkan langsung menuju transaksi.

Elemen yang diprioritaskan:

  • Harga atau promo.
  • Kode voucher.
  • Link pembelian.
  • Periode promo.
  • Stok atau kuota.
  • Cara checkout.
  • CTA pembelian.
  • Tracking kode promo.

Contoh CTA:

Gunakan kode CREATOR10 sebelum [tanggal] untuk mendapatkan potongan harga sesuai ketentuan.

3. Brief untuk Campaign Event

Campaign event perlu menjelaskan informasi registrasi dan alasan audiens perlu hadir.

Elemen yang diprioritaskan:

  • Nama event.
  • Tema acara.
  • Tanggal dan lokasi.
  • Benefit peserta.
  • Pembicara atau aktivitas.
  • Harga tiket.
  • Link registrasi.
  • Countdown.
  • CTA pendaftaran.

Contoh CTA:

Daftar melalui link di bio sebelum kuota peserta penuh.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Membuat Brief Influencer

Brief influencer yang kurang jelas dapat membuat hasil konten tidak sesuai ekspektasi, pesan promosi menjadi kurang efektif, hingga menyulitkan proses evaluasi campaign. Karena itu, pastikan beberapa kesalahan berikut tidak terjadi saat menyusun brief untuk creator atau influencer.

1. Brief Terlalu Umum

Brief yang terlalu umum membuat influencer harus menebak sendiri arah konten yang diharapkan. Akibatnya, konten dapat terasa tidak relevan dengan tujuan campaign atau tidak menonjolkan keunggulan produk secara tepat.

Beberapa informasi penting yang sebaiknya dicantumkan dalam brief antara lain:

  • Tujuan utama campaign, seperti meningkatkan awareness, traffic, penjualan, atau engagement.
  • Target audiens yang ingin dijangkau.
  • Produk atau layanan yang perlu diperkenalkan.
  • Pesan utama yang harus tersampaikan.
  • Platform dan format konten yang digunakan.
  • Timeline produksi, revisi, dan jadwal publikasi.

Brief tetap perlu jelas, tetapi tidak harus terlalu panjang. Fokuskan informasi pada hal-hal yang benar-benar dibutuhkan creator untuk membuat konten yang sesuai.

2. Terlalu Banyak Pesan dalam Satu Konten

Memasukkan terlalu banyak pesan promosi dalam satu konten dapat membuat audiens bingung. Konten menjadi terasa penuh, kurang natural, dan pesan utama brand justru sulit diingat.

Agar konten lebih fokus, tentukan prioritas komunikasi seperti:

  • Satu manfaat utama produk yang ingin ditonjolkan.
  • Satu masalah pelanggan yang ingin diselesaikan.
  • Satu promo atau penawaran yang ingin didorong.
  • Satu ajakan tindakan yang jelas untuk audiens.

Konten influencer akan lebih efektif ketika audiens dapat langsung memahami inti pesan tanpa harus menerima terlalu banyak informasi sekaligus.

3. Tidak Mencantumkan Promo yang Final

Promo yang belum final dapat menimbulkan kesalahan informasi di konten. Hal ini berisiko membuat pelanggan merasa kecewa apabila promo yang disebutkan influencer berbeda dengan promo yang berlaku saat mereka ingin membeli.

Pastikan brief mencantumkan informasi promo secara lengkap, seperti:

  • Nama atau jenis promo.
  • Nominal diskon atau keuntungan yang diberikan.
  • Kode voucher atau kode referral.
  • Periode promo berlaku.
  • Syarat dan ketentuan pembelian.
  • Produk atau kategori yang termasuk dalam promo.

Sebelum konten dipublikasikan, cek kembali apakah seluruh detail promo sudah benar dan masih aktif.

4. Tidak Menjelaskan Larangan Klaim

Setiap brand perlu menjelaskan klaim atau pernyataan yang tidak boleh disampaikan oleh influencer. Hal ini penting untuk menjaga kredibilitas bisnis dan mencegah risiko informasi yang berlebihan, tidak akurat, atau berpotensi melanggar aturan promosi.

Contoh larangan klaim yang perlu dijelaskan antara lain:

  • Klaim hasil instan atau berlebihan.
  • Klaim kesehatan, keamanan, atau manfaat tertentu tanpa dasar yang jelas.
  • Perbandingan langsung yang menjatuhkan kompetitor.
  • Penyebutan harga, promo, atau stok yang tidak sesuai.
  • Janji produk yang tidak dapat dibuktikan oleh brand.

Dengan batasan yang jelas, creator tetap dapat membuat konten kreatif tanpa menyampaikan informasi yang berisiko bagi brand.

5. Mengatur Creator Terlalu Kaku

Brief yang terlalu mengatur setiap detail konten dapat membuat hasil promosi terasa seperti iklan biasa. Padahal, kekuatan utama influencer terletak pada gaya komunikasi mereka yang sudah dikenal dan dipercaya oleh audiensnya.

Berikan creator ruang untuk mengolah konten melalui:

  • Gaya bahasa khas mereka.
  • Cara bercerita yang sesuai dengan karakter audiens.
  • Format penyampaian yang paling cocok untuk platform.
  • Pengalaman pribadi yang relevan dengan produk.
  • Ide kreatif untuk hook, storytelling, atau visual konten.

Brand tetap perlu memberikan arahan utama, tetapi sebaiknya tidak menghilangkan karakter asli creator. Konten yang terasa natural biasanya lebih mudah diterima oleh audiens.

6. Tidak Membahas Hak Penggunaan Konten

Konten yang dibuat oleh influencer tidak selalu otomatis dapat digunakan ulang oleh brand untuk kebutuhan iklan, website, marketplace, atau media sosial. Karena itu, hak penggunaan konten perlu dibahas sejak awal agar tidak terjadi kesalahpahaman setelah campaign berjalan.

Hal yang perlu disepakati dalam brief atau kerja sama meliputi:

  • Platform tempat konten akan dipublikasikan.
  • Durasi hak penggunaan konten.
  • Izin penggunaan ulang untuk kebutuhan iklan berbayar.
  • Izin untuk mengedit, memotong, atau menambahkan elemen brand.
  • Ketentuan penggunaan wajah, suara, dan materi creator.
  • Biaya tambahan apabila konten digunakan untuk ads atau materi promosi lain.

Kejelasan hak penggunaan membantu brand memaksimalkan aset konten dengan aman dan profesional.

7. Tidak Menyediakan Tracking

Tanpa sistem tracking, brand akan kesulitan mengetahui apakah influencer benar-benar memberikan dampak terhadap traffic, leads, atau penjualan. Campaign akhirnya hanya dinilai dari jumlah views atau likes, padahal hasil bisnis yang lebih konkret perlu diukur.

Beberapa metode tracking yang dapat digunakan adalah:

  • Kode promo khusus untuk setiap influencer.
  • Link referral atau affiliate.
  • UTM link untuk melacak traffic dari konten.
  • Landing page khusus campaign.
  • Formulir atau checkout dengan sumber referral.
  • Dashboard affiliate atau laporan penjualan dari marketplace.

Dengan tracking yang jelas, brand dapat membandingkan performa setiap creator dan menentukan strategi kerja sama berikutnya secara lebih objektif.

8. Tidak Menyiapkan Admin dan Jalur Pembelian

Konten influencer dapat meningkatkan jumlah pertanyaan dan pesanan dalam waktu singkat. Apabila admin belum siap atau jalur pembelian tidak jelas, calon pelanggan dapat kehilangan minat sebelum melakukan transaksi.

Pastikan beberapa hal berikut sudah disiapkan sebelum konten tayang:

  • Admin yang siap merespons pertanyaan pelanggan.
  • Template jawaban untuk pertanyaan yang sering muncul.
  • Link pembelian yang aktif dan mudah diakses.
  • Stok produk yang mencukupi.
  • Informasi harga, promo, dan ongkir yang sudah diperbarui.
  • Alur pemesanan yang sederhana dan tidak membingungkan.
  • Kontak customer service yang mudah ditemukan.

Influencer dapat membantu mendatangkan perhatian dan calon pelanggan, tetapi proses pembelian yang rapi tetap menjadi tanggung jawab brand. Pastikan pengalaman pelanggan tetap lancar dari konten pertama yang mereka lihat hingga transaksi selesai.

Checklist Sebelum Brief Dikirim

Gunakan checklist berikut sebelum mengirim brief kepada influencer.

1. Checklist Strategi

  • Tujuan campaign sudah jelas.
  • Target audiens sudah ditentukan.
  • KOL atau influencer sudah sesuai niche.
  • Platform dan format konten sudah dipilih.
  • CTA utama sudah ditentukan.
  • KPI sudah disiapkan.

2. Checklist Produk dan Promo

  • Informasi produk sudah final.
  • Harga sudah benar.
  • Promo sudah aktif.
  • Kode voucher sudah diuji.
  • Link pembelian sudah aktif.
  • Stok atau kuota sudah tersedia.
  • FAQ sudah diperbarui.
  • Admin sudah siap menangani pertanyaan.

3. Checklist Konten dan Kepatuhan

  • Pesan utama sudah ditentukan.
  • Angle konten tersedia.
  • Informasi wajib sudah jelas.
  • Klaim yang dilarang sudah dicantumkan.
  • Paid partnership disclosure sudah dibahas.
  • Hak penggunaan konten sudah dijelaskan.
  • Timeline dan approval sudah disepakati.
  • Format reporting sudah ditentukan.

Buat Brief Influencer Bersama Shanum Agency

Cara membuat brief influencer yang baik membantu campaign berjalan lebih terarah karena brand dan creator memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan, produk, pesan, deliverable, CTA, disclosure, serta pelaporan hasil. Brief bukan sekadar dokumen administratif, tetapi dasar untuk menjaga kualitas komunikasi brand dan mengukur efektivitas kerja sama influencer.

Shanum Agency dapat membantu bisnis menyusun konsep campaign, memilih influencer sesuai niche dan target audiens, membuat brief konten, mengatur deliverable, mengelola publikasi, menyiapkan kode promo, memantau performa, serta menyusun laporan campaign. Shanum Agency mencantumkan layanan influencer marketing yang mencakup perencanaan campaign, koordinasi konten, brief promosi, publikasi, dan monitoring hasil.

Ingin produk Anda lebih dikenal luas dan meningkatkan penjualan melalui strategi promosi online yang profesional dan terukur?

Tim ahli kami siap membantu mulai dari perencanaan strategi, eksekusi campaign, hingga laporan performa lengkap.

Share This :

Siap Tingkatkan Brand Anda dengan Influencer Marketing?

Jangan biarkan kompetitor lebih dulu menguasai perhatian pasar.
Mulai campaign Anda sekarang dan rasakan peningkatan awareness serta potensi penjualan secara nyata.