Cara Membuat Campaign Marketing

Blog

Cara Membuat Campaign Marketing: Panduan dari Riset hingga Evaluasi

Cara membuat campaign marketing perlu dimulai dari tujuan bisnis yang jelas, bukan hanya dari ide konten atau keinginan untuk membuat promosi terlihat ramai. Campaign yang baik memiliki target audiens, pesan utama, konsep kreatif, kanal distribusi, timeline, anggaran, dan indikator keberhasilan yang dapat dievaluasi setelah pelaksanaan.

Bagi UMKM, bisnis lokal, brand online, perusahaan jasa, cafe, restoran, event organizer, hingga bisnis B2B, cara membuat campaign marketing dapat membantu promosi berjalan lebih terarah. Campaign dapat digunakan untuk memperkenalkan brand baru, meluncurkan produk, meningkatkan traffic, mengumpulkan leads, menaikkan engagement, mendorong penjualan, atau menjaga hubungan dengan pelanggan lama.

Shanum Agency menjelaskan bahwa campaign promosi perlu memiliki pesan utama, target audiens, kanal komunikasi, konsep kreatif, timeline, serta indikator keberhasilan yang jelas agar promosi tidak dilakukan secara spontan dan lebih mudah dievaluasi.

Apa Itu Campaign Marketing?

Campaign marketing adalah rangkaian aktivitas promosi yang dirancang secara terencana untuk mencapai tujuan tertentu dalam periode waktu tertentu. Campaign dapat menggunakan satu kanal atau beberapa kanal sekaligus, seperti Instagram, TikTok, website, email, influencer, iklan digital, event, komunitas, marketplace, hingga media partner.

Berbeda dari posting promosi rutin, campaign memiliki tema, pesan, target, periode pelaksanaan, dan arah tindakan yang lebih spesifik. Misalnya, campaign launching produk baru, campaign promo Ramadan, campaign grand opening, campaign pengumpulan leads, atau campaign penjualan dengan kode voucher.

1. Campaign Marketing Memiliki Tujuan yang Spesifik

Sebuah campaign tidak perlu mengejar semua hasil sekaligus. Tentukan satu tujuan utama agar strategi, konten, dan budget dapat diarahkan dengan lebih fokus.

Contoh tujuan campaign:

  • Memperkenalkan produk atau brand baru.
  • Meningkatkan brand awareness.
  • Mendatangkan traffic ke website atau marketplace.
  • Mengumpulkan leads melalui WhatsApp atau formulir.
  • Meningkatkan penjualan produk tertentu.
  • Mengajak peserta mendaftar event.
  • Meningkatkan penggunaan kode promo.
  • Mengaktifkan kembali pelanggan lama.
  • Membangun engagement dengan komunitas.

Campaign marketing adalah pendekatan yang dirancang untuk mencapai sasaran bisnis tertentu dalam periode tertentu melalui kanal seperti media sosial, website, email marketing, iklan digital, maupun kolaborasi influencer.

2. Campaign Berbeda dengan Promosi Harian

Promosi harian biasanya dilakukan secara rutin untuk menjaga aktivitas pemasaran tetap berjalan. Bentuknya dapat berupa posting produk, upload testimoni pelanggan, membagikan katalog, membuat konten edukasi, atau menawarkan promo sederhana di media sosial.

Sementara itu, campaign marketing memiliki strategi yang lebih terintegrasi dan terstruktur. Campaign tidak hanya berfokus pada satu postingan, tetapi mencakup beberapa aktivitas yang saling mendukung untuk mencapai tujuan tertentu.

Perbedaan campaign marketing dan promosi harian dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:

  • Campaign memiliki tema atau konsep utama yang lebih jelas.
  • Campaign dijalankan dalam periode waktu tertentu, misalnya tujuh hari, dua minggu, atau satu bulan.
  • Campaign biasanya memiliki pesan inti yang digunakan secara konsisten di berbagai kanal.
  • Campaign dapat melibatkan beberapa jenis konten, seperti teaser, edukasi, testimoni, promo, countdown, dan call to action.
  • Campaign memiliki target hasil yang lebih spesifik, seperti leads, transaksi, traffic, atau engagement.
  • Campaign membutuhkan evaluasi hasil setelah periode promosi selesai.

Sebagai contoh, posting promo harian mungkin hanya menawarkan diskon produk. Namun, campaign promo akhir tahun dapat mencakup konten teaser, peluncuran promo, kerja sama dengan influencer, iklan digital, voucher terbatas, reminder stok, hingga konten penutup sebelum promo berakhir.

Karena memiliki perencanaan yang lebih matang, campaign dapat menciptakan momentum yang lebih kuat dibandingkan promosi rutin biasa.

3. Campaign Marketing Perlu Memiliki Jalur Tindakan

Campaign tidak cukup hanya membuat audiens melihat konten. Audiens perlu diarahkan ke tindakan berikutnya yang sesuai dengan tujuan bisnis.

Contoh jalur tindakan:

  • Melihat profil Instagram.
  • Mengunjungi website.
  • Klik link produk.
  • Membuka katalog.
  • Menghubungi WhatsApp.
  • Menggunakan kode promo.
  • Mengisi formulir.
  • Mendaftar event.
  • Mengunjungi outlet.
  • Membeli melalui marketplace.

Semakin jelas jalur tindakan, semakin mudah bisnis mengukur apakah campaign menghasilkan hasil yang relevan.

Cara Membuat Campaign Marketing

Mengapa Cara Membuat Campaign Marketing Penting untuk Bisnis?

Campaign marketing yang direncanakan dengan baik membantu bisnis menjalankan promosi secara lebih terarah. Setiap aktivitas, mulai dari pembuatan konten, penggunaan iklan, penawaran promo, hingga komunikasi kepada pelanggan, dapat disusun berdasarkan tujuan yang jelas.

Tanpa perencanaan campaign, promosi sering kali berjalan berdasarkan ide spontan. Akibatnya, penggunaan waktu, tenaga, konten, dan budget menjadi kurang efisien karena bisnis tidak memiliki target maupun indikator keberhasilan yang dapat diukur.

1. Membantu Bisnis Memiliki Arah Promosi

Campaign marketing membantu bisnis menentukan fokus promosi dalam periode tertentu. Dengan arah yang jelas, bisnis dapat menyampaikan pesan yang lebih konsisten kepada target audiens.

Beberapa hal yang dapat ditentukan sejak awal meliputi:

  • Tujuan campaign, seperti meningkatkan penjualan, memperkenalkan produk baru, atau mendapatkan leads.
  • Target audiens yang ingin dijangkau berdasarkan kebutuhan, lokasi, minat, atau kebiasaan belanja.
  • Pesan utama yang ingin disampaikan kepada calon pelanggan.
  • Kanal promosi yang digunakan, seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, marketplace, website, atau iklan digital.
  • Periode pelaksanaan campaign agar setiap aktivitas memiliki batas waktu yang jelas.

Arah promosi yang terstruktur membantu bisnis menghindari konten yang tidak relevan dan membuat setiap materi pemasaran saling mendukung untuk mencapai tujuan yang sama.

2. Membantu Menggunakan Budget Lebih Terukur

Campaign marketing juga penting untuk membantu bisnis mengatur budget promosi secara lebih efektif. Bisnis dapat menentukan prioritas pengeluaran berdasarkan channel dan aktivitas yang memiliki potensi hasil terbaik.

Pengelolaan budget campaign dapat mencakup:

  • Alokasi dana untuk iklan berbayar di media sosial atau marketplace.
  • Biaya produksi konten, seperti desain, video, foto produk, atau copywriting.
  • Budget untuk promo, diskon, voucher, gratis ongkir, atau bundling produk.
  • Biaya kerja sama dengan influencer, affiliate, atau partner promosi.
  • Dana cadangan untuk melakukan optimasi apabila hasil campaign belum sesuai target.

Dengan perencanaan yang jelas, bisnis tidak hanya mengeluarkan budget untuk “mencoba promosi”, tetapi dapat mengetahui aktivitas mana yang paling layak diprioritaskan dan dikembangkan.

3. Membantu Menilai Hasil Promosi Secara Objektif

Salah satu manfaat utama campaign marketing adalah bisnis dapat mengevaluasi hasil promosi berdasarkan data, bukan hanya asumsi. Setiap campaign dapat memiliki target dan indikator performa yang berbeda sesuai dengan tujuannya.

Beberapa metrik yang dapat digunakan untuk menilai hasil campaign antara lain:

  • Jumlah jangkauan atau reach konten dan iklan.
  • Jumlah klik menuju website, katalog, marketplace, atau WhatsApp.
  • Pertumbuhan followers, engagement, dan interaksi audiens.
  • Jumlah leads atau calon pelanggan yang masuk.
  • Jumlah transaksi dan total omzet yang dihasilkan.
  • Biaya per leads, biaya per transaksi, serta Return on Ad Spend atau ROAS.

Data tersebut membantu bisnis mengetahui apakah campaign berjalan efektif atau perlu diperbaiki. Dari hasil evaluasi, bisnis dapat menentukan strategi yang perlu diteruskan, dioptimalkan, atau dihentikan agar promosi berikutnya menghasilkan performa yang lebih baik.

Tentukan Tujuan Campaign Sebelum Membuat Konten

Tahap pertama dalam cara membuat campaign marketing adalah menentukan tujuan utama. Tujuan akan memengaruhi target audiens, jenis konten, channel, budget, CTA, dan metrik evaluasi.

1. Campaign Awareness

Campaign awareness digunakan ketika bisnis ingin memperkenalkan brand, produk, layanan, lokasi usaha, atau event kepada audiens baru.

Contoh konten untuk campaign awareness:

  • Video perkenalan brand.
  • Reels produk unggulan.
  • Konten behind the scenes.
  • Video suasana outlet.
  • Kolaborasi dengan creator.
  • Konten brand story.
  • Video teaser launching.
  • Paid promote melalui akun yang relevan.

Meta menjelaskan objective awareness dapat digunakan untuk memaksimalkan reach, impressions, ad recall lift, atau video views sesuai tujuan campaign.

2. Campaign Traffic

Campaign traffic digunakan ketika bisnis ingin mengarahkan audiens ke website, landing page, katalog, marketplace, WhatsApp, atau halaman event.

Contoh CTA:

  • Klik link di bio.
  • Lihat katalog lengkap.
  • Cek menu di website.
  • Daftar melalui landing page.
  • Hubungi WhatsApp untuk konsultasi.
  • Lihat detail paket layanan.

Meta menjelaskan objective traffic dirancang untuk mengarahkan audiens ke tujuan seperti website, landing page, aplikasi, WhatsApp, Messenger, atau panggilan bisnis.

3. Campaign Leads

Campaign leads bertujuan mengumpulkan data atau percakapan dari calon pelanggan yang berminat.

Contoh tindakan yang dapat diukur:

  • Form konsultasi masuk.
  • Klik WhatsApp.
  • Direct Message.
  • Pendaftaran webinar.
  • Download katalog.
  • Request quotation.
  • Pendaftaran demo produk.
  • Permintaan jadwal meeting.

Campaign leads cocok untuk bisnis jasa, properti, pendidikan, klinik, konsultan, vendor event, layanan B2B, atau produk dengan proses pertimbangan lebih panjang.

4. Campaign Penjualan

Campaign penjualan digunakan untuk mendorong transaksi dalam periode tertentu.

Contoh elemen campaign penjualan:

  • Kode promo.
  • Bundling produk.
  • Bonus pembelian.
  • Promo pelanggan baru.
  • Flash sale.
  • Promo payday.
  • Paket terbatas.
  • Gratis ongkir sesuai ketentuan.
  • Diskon event atau launching.

Untuk tujuan iklan, Meta menyediakan objective seperti awareness, traffic, engagement, leads, app promotion, dan sales. Pilih objective yang paling dekat dengan tujuan bisnis utama, bukan berdasarkan tren atau preferensi umum.

Cara Membuat Campaign Marketing

Kenali Target Audiens Campaign

Campaign yang tepat tidak harus menjangkau semua orang. Fokus utamanya adalah menjangkau audiens yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk tertarik, bertanya, atau membeli.

Dengan mengenali target audiens secara lebih spesifik, bisnis dapat membuat pesan promosi yang lebih relevan, menentukan kanal pemasaran yang tepat, serta menggunakan anggaran campaign secara lebih efektif.

1. Petakan Profil Target Audiens

Langkah awal dalam membuat campaign adalah memahami siapa orang yang ingin Anda jangkau. Target audiens tidak cukup hanya ditentukan berdasarkan usia atau lokasi, tetapi juga perlu dilihat dari kebutuhan, kebiasaan, hingga cara mereka mengambil keputusan pembelian.

Beberapa aspek yang dapat dipetakan meliputi:

  • Rentang usia, jenis kelamin, dan lokasi target pelanggan.
  • Pekerjaan, tingkat pendapatan, atau latar belakang bisnis mereka.
  • Minat, kebiasaan belanja, serta platform digital yang sering digunakan.
  • Produk atau layanan yang biasanya mereka butuhkan.
  • Faktor yang memengaruhi keputusan mereka sebelum membeli.
  • Jenis konten yang paling sering menarik perhatian mereka, seperti video, edukasi, promo, testimoni, atau perbandingan produk.

Profil audiens yang jelas akan membantu campaign terasa lebih personal. Pesan promosi tidak lagi dibuat secara umum, tetapi dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh calon pelanggan.

2. Tentukan Masalah yang Ingin Diangkat

Campaign yang efektif biasanya berangkat dari masalah nyata yang dialami target audiens. Produk atau layanan Anda perlu hadir sebagai solusi yang relevan, bukan hanya sebagai penawaran yang meminta orang untuk membeli.

Beberapa hal yang dapat Anda gali untuk menentukan masalah audiens antara lain:

  • Kendala yang sering mereka hadapi sebelum menggunakan produk atau layanan Anda.
  • Keluhan yang muncul saat mereka menggunakan produk dari kompetitor.
  • Risiko atau kerugian yang mungkin terjadi apabila masalah tersebut tidak segera diselesaikan.
  • Hambatan yang membuat mereka ragu untuk membeli atau menggunakan layanan.
  • Hasil yang ingin mereka capai setelah masalah tersebut terselesaikan.
  • Pertanyaan yang sering muncul dari calon pelanggan sebelum melakukan pembelian.

Misalnya, target pelanggan mungkin kesulitan menemukan jasa yang responsif, bingung memilih produk yang sesuai kebutuhan, atau merasa proses pemesanan terlalu rumit. Masalah seperti ini dapat dijadikan sudut komunikasi utama dalam campaign agar audiens merasa brand Anda benar-benar memahami situasi mereka.

3. Buat Customer Journey Sederhana

Customer journey adalah gambaran perjalanan calon pelanggan dari pertama kali mengenal brand hingga akhirnya melakukan pembelian atau menjadi pelanggan loyal. Dengan memahami alur ini, bisnis dapat menyiapkan konten dan pesan campaign yang sesuai pada setiap tahap.

Secara sederhana, customer journey dapat dibagi menjadi beberapa tahap berikut:

  • Tahap awareness, ketika audiens baru mulai mengenal brand, produk, atau masalah yang sedang mereka alami.
  • Tahap consideration, ketika audiens mulai membandingkan pilihan, mencari informasi, dan mempertimbangkan solusi yang tersedia.
  • Tahap conversion, ketika audiens membutuhkan dorongan untuk melakukan pembelian, konsultasi, atau menghubungi bisnis Anda.
  • Tahap retention, ketika pelanggan perlu dijaga agar tetap puas, melakukan pembelian ulang, atau merekomendasikan brand kepada orang lain.

Pada tahap awareness, Anda dapat menggunakan konten edukatif, tips, atau informasi seputar masalah audiens. Pada tahap consideration, tampilkan keunggulan produk, testimoni, portofolio, atau studi kasus. Sementara pada tahap conversion, gunakan penawaran yang jelas, ajakan bertindak yang kuat, serta proses kontak atau pemesanan yang mudah.

Customer journey yang sederhana akan membuat campaign lebih terarah karena setiap konten memiliki tujuan yang jelas dan tidak hanya dibuat untuk mengejar jangkauan semata.

Rancang Konsep dan Pesan Utama Campaign

Setelah tujuan dan audiens ditentukan, tahap berikutnya dalam cara membuat campaign marketing adalah merancang konsep yang menyatukan seluruh aktivitas promosi.

1. Buat Pesan Utama yang Mudah Diingat

Pesan utama adalah inti yang ingin ditangkap audiens setelah melihat campaign.

Pesan yang baik sebaiknya:

  • Ringkas.
  • Relevan dengan target audiens.
  • Sesuai manfaat produk atau layanan.
  • Tidak berlebihan.
  • Mudah digunakan pada konten berbeda.
  • Mendukung positioning brand.

Contoh pesan utama:

  • Menu praktis untuk hari yang padat.
  • Saatnya bisnis punya website yang lebih siap jualan.
  • Temukan outfit yang nyaman untuk aktivitas harian.
  • Promo spesial untuk pelanggan baru.
  • Ruang produktif untuk ide yang lebih besar.
  • Mulai konsultasi tanpa proses yang rumit.

Pesan utama tidak harus berupa slogan resmi. Yang penting, seluruh konten campaign tetap mengarah pada ide yang sama.

2. Tentukan Konsep Kreatif

Konsep kreatif adalah cara campaign menyampaikan pesan agar lebih menarik dan mudah diingat. Konsep dapat berbentuk tema visual, cerita, tantangan, serial edukasi, testimoni, atau aktivitas komunitas.

Contoh konsep campaign:

  • “7 Hari Menu Praktis” untuk produk makanan.
  • “Bisnis Siap Online” untuk layanan website.
  • “Pilih Sesuai Gayamu” untuk fashion.
  • “Cerita Pelanggan” untuk bisnis jasa.
  • “Temukan Menu Favoritmu” untuk cafe.
  • “Mulai dari Konsultasi” untuk klinik atau jasa profesional.

Konsep kreatif harus tetap realistis terhadap waktu produksi, kemampuan tim, dan budget campaign.

3. Tentukan Call to Action Utama

Satu campaign sebaiknya memiliki satu CTA utama agar audiens tidak bingung.

Contoh CTA:

  • Hubungi WhatsApp.
  • Gunakan kode promo.
  • Klik link di bio.
  • Daftar sekarang.
  • Cek katalog.
  • Kunjungi outlet.
  • Reservasi tempat.
  • Pesan melalui marketplace.
  • Isi formulir konsultasi.

CTA dapat berbeda pada setiap konten, tetapi arahnya harus tetap mendukung tujuan utama campaign.

Cara Membuat Campaign Marketing

Pilih Kanal Promosi yang Sesuai

Campaign tidak harus hadir di semua kanal. Pilih kanal berdasarkan perilaku target audiens, tujuan campaign, jenis produk, dan kemampuan tim.

1. Gunakan Owned Media

Owned media adalah kanal yang dikendalikan langsung oleh bisnis.

Contohnya:

  • Instagram.
  • TikTok.
  • Website.
  • Landing page.
  • Email database.
  • WhatsApp Business.
  • Google Business Profile.
  • Marketplace.
  • Komunitas pelanggan.

Kelebihan owned media adalah bisnis memiliki kontrol lebih besar terhadap pesan, data, dan pengalaman pelanggan.

2. Gunakan Paid Media

Paid media adalah kanal berbayar untuk memperluas distribusi campaign.

Contohnya:

  • Meta Ads.
  • Instagram Ads.
  • TikTok Ads.
  • Google Ads.
  • Paid promote.
  • Media partner.
  • Partnership ads.
  • Sponsorship event.

Paid media dapat membantu campaign menjangkau audiens baru lebih cepat. Namun, iklan perlu didukung materi kreatif, CTA, dan landing page yang sesuai agar budget tidak hanya menghasilkan impressions tanpa tindakan lanjutan.

3. Gunakan Creator dan Komunitas yang Relevan

Influencer atau creator dapat membantu brand menjangkau audiens baru melalui konten yang lebih personal dan kontekstual.

Sebelum bekerja sama, periksa:

  • Niche creator.
  • Lokasi audiens.
  • Kualitas engagement.
  • Gaya konten.
  • Reputasi akun.
  • Rata-rata views.
  • Riwayat promosi.
  • Kesesuaian dengan target brand.
  • Kemampuan menjelaskan produk.

Shanum Agency mencantumkan proses campaign influencer yang mencakup pemilihan kreator, penyusunan konsep, pembuatan brief, pengelolaan publikasi, hingga evaluasi hasil promosi.

Susun Timeline Campaign Marketing

Timeline membantu tim memahami aktivitas yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah campaign berjalan.

1. Fase Pra-Campaign

Fase ini digunakan untuk mempersiapkan semua aset dan sistem pendukung.

Aktivitas yang dapat dilakukan:

  • Menentukan tujuan dan KPI.
  • Riset audiens.
  • Menyusun konsep campaign.
  • Menyiapkan landing page.
  • Membuat konten visual dan video.
  • Menyiapkan caption serta CTA.
  • Menentukan creator atau media partner.
  • Menyiapkan kode promo.
  • Menyusun FAQ untuk admin.
  • Mengatur tracking link.
  • Menyusun jadwal publikasi.

Jangan memulai campaign sebelum stok, katalog, landing page, admin, dan jalur pembelian siap digunakan.

2. Fase Launching

Fase launching bertujuan menciptakan perhatian awal terhadap campaign.

Aktivitas yang dapat digunakan:

  • Teaser melalui Story dan Reels.
  • Konten perkenalan campaign.
  • Pengumuman promo.
  • Publikasi creator.
  • Iklan awareness atau traffic.
  • Email announcement.
  • WhatsApp broadcast kepada pelanggan yang relevan.
  • Aktivasi komunitas.
  • Kolaborasi post atau Reels.

Fase awal perlu fokus pada pesan utama dan CTA yang mudah dipahami.

3. Fase Sustain

Setelah launching, campaign perlu dijaga agar audiens tidak hanya melihat satu konten lalu melupakannya.

Aktivitas yang dapat dilakukan:

  • Reels lanjutan.
  • Carousel edukasi.
  • Testimoni pelanggan.
  • Reminder promo.
  • Konten FAQ.
  • Story polling.
  • Pengumuman stok atau kuota.
  • Repost UGC.
  • Retargeting ads.
  • Follow-up leads.

Sustain phase membantu audiens yang belum siap membeli pada hari pertama memperoleh informasi tambahan sebelum mengambil keputusan.

4. Fase Penutupan dan Evaluasi

Fase penutupan tidak hanya berisi pesan “promo terakhir.” Tim perlu mencatat hasil campaign untuk pembelajaran berikutnya.

Aktivitas penutupan:

  • Reminder batas promo atau kuota.
  • Rekap konten terbaik.
  • Evaluasi reach, leads, dan conversion.
  • Mengumpulkan feedback pelanggan.
  • Mencatat pertanyaan yang sering muncul.
  • Membandingkan hasil dengan KPI awal.
  • Menentukan perbaikan campaign berikutnya.

Cara Membuat Campaign Marketing

Susun Anggaran Campaign Secara Proporsional

Budget campaign perlu disesuaikan dengan tujuan, skala promosi, durasi, kanal, dan kebutuhan produksi. Tidak ada formula pembagian budget yang berlaku untuk semua bisnis.

1. Kelompokkan Kebutuhan Budget

Beberapa komponen yang perlu dipertimbangkan:

  • Riset dan perencanaan.
  • Produksi desain.
  • Produksi foto dan video.
  • Copywriting.
  • Influencer atau creator fee.
  • Paid promote.
  • Budget iklan.
  • Landing page atau website.
  • Tools tracking.
  • Admin dan customer service.
  • Event atau aktivitas offline.
  • Reporting.

Campaign yang baik tidak selalu membutuhkan seluruh komponen tersebut. Pilih sesuai tujuan dan prioritas.

2. Contoh Kerangka Alokasi Budget

Berikut contoh kerangka perencanaan, bukan pembagian wajib:

Kebutuhan Campaign Estimasi Proporsi
Produksi konten dan desain 20%–35%
Iklan digital 25%–45%
Creator, influencer, atau media partner 15%–35%
Landing page, tracking, dan tools 5%–15%
Operasional, admin, dan reporting 5%–15%

Untuk campaign kecil, bisnis dapat memprioritaskan konten, CTA, dan iklan lokal. Untuk campaign lebih besar, budget dapat diperluas ke influencer, event, media partner, atau aktivasi komunitas.

3. Jangan Menghabiskan Budget Hanya untuk Exposure

Reach tinggi dapat membantu awareness, tetapi campaign tetap membutuhkan jalur konversi. Pastikan budget juga mendukung:

  • Landing page atau katalog.
  • Admin responsif.
  • Kode promo.
  • Tracking link.
  • Follow-up leads.
  • Retargeting.
  • Konten testimoni.
  • Informasi produk yang lengkap.

Tanpa sistem tersebut, campaign berisiko menghasilkan perhatian tanpa mendorong tindakan bisnis yang jelas.

Jalankan Campaign dengan Brief yang Terstruktur

Pelaksanaan campaign akan lebih rapi apabila setiap pihak memahami peran, jadwal, dan deliverable masing-masing.

1. Buat Campaign Brief

Campaign brief dapat mencakup:

  • Latar belakang campaign.
  • Tujuan utama.
  • Target audiens.
  • Pesan utama.
  • Konsep kreatif.
  • Kanal promosi.
  • Konten yang dibutuhkan.
  • CTA.
  • Timeline.
  • Budget.
  • KPI.
  • Informasi produk.
  • Ketentuan promo.
  • Risiko atau klaim yang harus dihindari.

Brief membantu tim internal, desainer, copywriter, admin, influencer, dan media partner memiliki pemahaman yang sama.

2. Siapkan Materi Konten Sebelum Campaign Dimulai

Konten campaign dapat mencakup:

  • Reels.
  • Carousel.
  • Feed post.
  • Story.
  • Video creator.
  • Banner digital.
  • Email.
  • Landing page.
  • Katalog.
  • Caption.
  • Hashtag campaign.
  • Materi iklan.

Untuk paid promote, Shanum Agency mencantumkan desain konten promosi, copywriting caption, hashtag campaign, dan jadwal posting sebagai bagian dari persiapan konten.

3. Pastikan Admin Siap Menangani Respons

Campaign dapat meningkatkan jumlah pertanyaan. Pastikan admin memiliki:

  • Template respons awal.
  • Informasi harga.
  • Katalog.
  • Syarat promo.
  • Data stok atau kuota.
  • Jadwal layanan.
  • Link pembayaran atau marketplace.
  • FAQ.
  • Prosedur follow-up.
  • Eskalasi untuk pertanyaan khusus.

Konten yang bagus dapat kehilangan dampak apabila calon pelanggan tidak menerima respons yang cepat dan jelas.

Cara Membuat Campaign Marketing

Ukur Hasil Campaign Marketing dengan KPI

Tahap evaluasi merupakan bagian penting dalam cara membuat campaign marketing. Tanpa evaluasi yang terukur, bisnis hanya dapat menebak apakah campaign berhasil, perlu diperbaiki, atau justru tidak memberikan dampak sesuai target.

Pengukuran campaign membantu Anda memahami efektivitas strategi, penggunaan anggaran, respons audiens, hingga peluang optimasi untuk campaign berikutnya. Karena itu, setiap campaign sebaiknya memiliki indikator keberhasilan yang jelas sejak awal.

1. Tentukan KPI Berdasarkan Tujuan Campaign

KPI atau Key Performance Indicator adalah metrik utama yang digunakan untuk mengukur keberhasilan campaign. KPI tidak boleh dipilih secara acak, tetapi harus disesuaikan dengan tujuan marketing yang ingin dicapai.

Contohnya, campaign untuk meningkatkan awareness tentu memiliki KPI yang berbeda dengan campaign yang bertujuan mendapatkan penjualan atau leads.

Beberapa contoh KPI yang dapat digunakan berdasarkan tujuan campaign:

  • Jumlah jangkauan atau reach untuk mengukur seberapa banyak orang yang melihat campaign.
  • Jumlah impresi untuk mengetahui berapa kali materi promosi ditampilkan.
  • Engagement rate, seperti jumlah like, komentar, share, save, atau klik.
  • Click-through rate atau CTR untuk mengukur persentase audiens yang melakukan klik pada iklan atau tautan.
  • Jumlah leads yang masuk melalui formulir, WhatsApp, landing page, atau chat.
  • Conversion rate untuk mengetahui persentase audiens yang melakukan tindakan sesuai target.
  • Jumlah transaksi atau total penjualan yang dihasilkan dari campaign.
  • Cost per lead atau cost per acquisition untuk mengukur efisiensi biaya pemasaran.
  • Return on ad spend atau ROAS untuk melihat hasil pendapatan dibandingkan biaya iklan.

Dengan KPI yang tepat, tim marketing dapat fokus pada angka yang benar-benar relevan terhadap tujuan bisnis, bukan hanya mengejar metrik yang terlihat besar tetapi belum tentu menghasilkan dampak nyata.

2. Gunakan Tracking yang Konsisten

Tracking berfungsi untuk mencatat perjalanan audiens sejak melihat campaign hingga melakukan tindakan, seperti mengunjungi website, mengisi formulir, menghubungi tim sales, atau membeli produk.

Sistem tracking yang konsisten membantu bisnis mengetahui channel, materi promosi, dan audiens mana yang memberikan hasil terbaik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses tracking:

  • Gunakan link khusus atau UTM parameter untuk membedakan sumber traffic dari Instagram, TikTok, Google Ads, email, atau channel lainnya.
  • Pasang tracking pixel pada website atau landing page untuk memantau aktivitas pengunjung.
  • Catat sumber leads yang masuk melalui WhatsApp, formulir, marketplace, atau media sosial.
  • Bedakan setiap campaign berdasarkan nama, periode, target audiens, dan platform yang digunakan.
  • Gunakan dashboard atau spreadsheet agar data campaign tersusun rapi dan mudah dibandingkan.
  • Pastikan tim marketing dan sales menggunakan format pencatatan yang sama agar data tidak tercampur.
  • Lakukan pengecekan berkala untuk memastikan tracking berjalan dengan benar.

Tanpa tracking yang rapi, bisnis akan kesulitan mengetahui campaign mana yang benar-benar menghasilkan leads atau penjualan. Akibatnya, anggaran marketing berisiko dialokasikan ke channel yang kurang efektif.

3. Buat Laporan Campaign Secara Berkala

Laporan campaign membantu bisnis melihat hasil keseluruhan secara lebih objektif. Laporan ini bukan hanya berisi angka, tetapi juga harus menjelaskan insight, kendala, dan rekomendasi untuk optimasi berikutnya.

Beberapa informasi yang sebaiknya ada dalam laporan campaign:

  • Tujuan utama campaign dan target KPI yang telah ditentukan.
  • Periode pelaksanaan campaign.
  • Channel marketing yang digunakan, seperti media sosial, iklan digital, email marketing, atau marketplace.
  • Total anggaran yang digunakan.
  • Hasil performa setiap channel dan materi promosi.
  • Jumlah leads, transaksi, atau conversion yang diperoleh.
  • Perbandingan antara target dan hasil aktual.
  • Konten, iklan, atau strategi yang memberikan performa terbaik.
  • Kendala yang terjadi selama campaign berlangsung.
  • Rekomendasi tindakan untuk campaign berikutnya.

Melalui laporan yang terstruktur, bisnis dapat mengambil keputusan berdasarkan data. Hasil evaluasi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas konten, memperbaiki targeting audiens, mengoptimalkan anggaran iklan, serta memilih strategi yang paling efektif untuk campaign selanjutnya.

Contoh Penerapan Campaign Marketing

1. Campaign Launching Produk Kuliner

Tujuan: memperkenalkan menu baru dan mendatangkan pembelian dalam 14 hari.

Elemen campaign:

  • Teaser menu melalui Story.
  • Reels proses pembuatan.
  • Konten food creator lokal.
  • Promo kode voucher.
  • Story review pelanggan.
  • Iklan lokal dengan objective awareness dan traffic.
  • CTA ke WhatsApp atau layanan pemesanan.
  • Reminder pada tiga hari terakhir.

KPI yang dapat dipantau:

  • Reach.
  • Video views.
  • Kode promo.
  • Pesanan menu baru.
  • Jumlah mention pelanggan.
  • Pesan masuk.

2. Campaign Lead Generation untuk Bisnis Jasa

Tujuan: mengumpulkan calon klien yang membutuhkan konsultasi.

Elemen campaign:

  • Carousel masalah pelanggan.
  • Reels studi kasus.
  • Landing page konsultasi.
  • Iklan leads atau traffic.
  • Testimoni klien.
  • Story FAQ.
  • CTA ke WhatsApp atau form.
  • Follow-up leads oleh admin.

KPI yang dapat dipantau:

  • Klik landing page.
  • Form masuk.
  • Klik WhatsApp.
  • Jumlah konsultasi.
  • Kualitas leads.
  • Conversion dari lead ke deal.

3. Campaign Promosi Event

Tujuan: meningkatkan jumlah pendaftaran dan kehadiran peserta.

Elemen campaign:

  • Teaser event.
  • Video pembicara atau performer.
  • Countdown Story.
  • Kolaborasi dengan komunitas.
  • Konten benefit peserta.
  • Iklan traffic ke halaman registrasi.
  • Kode referral.
  • Reminder mendekati hari acara.

KPI yang dapat dipantau:

  • Registrasi.
  • Klik halaman event.
  • Penggunaan kode referral.
  • Reach konten creator.
  • Jumlah peserta hadir.
  • Feedback peserta.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Membuat Campaign Marketing

Campaign marketing yang efektif membutuhkan perencanaan, eksekusi, dan evaluasi yang terukur. Kesalahan kecil dalam menentukan target, membuat pesan promosi, atau mengelola respons pelanggan dapat membuat budget terbuang tanpa menghasilkan konversi yang optimal.

1. Memulai Campaign Tanpa Tujuan Jelas

Campaign sebaiknya tidak dibuat hanya karena ingin meningkatkan penjualan atau mengikuti tren promosi kompetitor. Tanpa tujuan yang spesifik, bisnis akan kesulitan menentukan strategi, memilih channel, membuat konten, hingga mengukur hasil campaign.

Sebelum campaign dimulai, tentukan tujuan utama yang ingin dicapai, seperti:

  • Meningkatkan brand awareness di kalangan target pasar tertentu.
  • Mendapatkan leads atau calon pelanggan baru.
  • Meningkatkan jumlah penjualan produk atau layanan tertentu.
  • Mengarahkan traffic ke website, landing page, atau marketplace.
  • Mendorong pelanggan lama melakukan repeat order.
  • Memperkenalkan produk, paket, atau layanan baru.

Tujuan yang jelas akan membantu bisnis menentukan indikator keberhasilan campaign, misalnya jumlah leads, nilai penjualan, jumlah klik, conversion rate, atau return on ad spend.

2. Menargetkan Audiens Terlalu Luas

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah membuat campaign untuk “semua orang”. Target audiens yang terlalu luas membuat pesan promosi menjadi kurang relevan, biaya iklan lebih tidak efisien, dan peluang konversi cenderung lebih rendah.

Agar campaign lebih tepat sasaran, segmentasikan audiens berdasarkan beberapa faktor berikut:

  • Usia, lokasi, jenis kelamin, dan tingkat pendapatan.
  • Minat, kebiasaan belanja, atau gaya hidup.
  • Masalah yang sedang mereka hadapi.
  • Tahap mereka dalam proses pembelian.
  • Riwayat interaksi dengan brand atau produk Anda.
  • Jenis perangkat atau platform yang paling sering digunakan.

Semakin spesifik target audiens yang ditentukan, semakin mudah bisnis membuat pesan yang relevan dan menawarkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

3. Membuat Konten Tanpa CTA

Konten promosi yang menarik belum tentu menghasilkan tindakan dari audiens. Banyak campaign gagal karena konten hanya fokus pada informasi atau visual, tetapi tidak memberikan arahan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan setelah melihat promosi tersebut.

Call to Action atau CTA perlu dibuat singkat, mudah dipahami, dan sesuai dengan tujuan campaign. Contohnya:

  • Pesan sekarang sebelum promo berakhir.
  • Klik link untuk melihat katalog lengkap.
  • Konsultasikan kebutuhan Anda melalui WhatsApp.
  • Daftar untuk mendapatkan penawaran khusus.
  • Gunakan kode promo sebelum kuota habis.
  • Hubungi tim kami untuk informasi harga.

CTA yang jelas membantu mengarahkan audiens dari tahap melihat konten menuju tindakan yang lebih konkret, seperti menghubungi bisnis, mengisi formulir, atau melakukan pembelian.

4. Menghabiskan Budget Tanpa Tracking

Menjalankan iklan atau campaign tanpa tracking yang tepat dapat membuat bisnis tidak mengetahui channel mana yang efektif dan bagian mana yang perlu diperbaiki. Akibatnya, budget terus dikeluarkan tanpa dasar evaluasi yang jelas.

Beberapa data penting yang sebaiknya dipantau selama campaign berlangsung antara lain:

  • Jumlah impresi dan jangkauan konten atau iklan.
  • Click-through rate atau persentase audiens yang melakukan klik.
  • Biaya per klik, biaya per leads, dan biaya per pembelian.
  • Jumlah chat, formulir masuk, atau pesanan yang dihasilkan.
  • Conversion rate dari pengunjung menjadi calon pelanggan atau pembeli.
  • Return on investment dan return on ad spend.
  • Channel marketing yang memberikan hasil terbaik.

Dengan tracking yang konsisten, bisnis dapat menghentikan strategi yang tidak efektif dan mengalokasikan budget ke channel atau konten yang memberikan hasil lebih baik.

5. Tidak Menyiapkan Tim Customer Service

Campaign yang berhasil dapat meningkatkan jumlah chat, pertanyaan, dan permintaan informasi dari calon pelanggan. Namun, tanpa kesiapan tim customer service, peluang tersebut bisa hilang karena respons yang lambat atau informasi yang diberikan tidak konsisten.

Agar proses follow-up lebih optimal, pastikan tim customer service sudah menyiapkan:

  • Template jawaban untuk pertanyaan yang sering muncul.
  • Informasi harga, promo, produk, dan ketentuan layanan yang lengkap.
  • Alur follow-up untuk calon pelanggan yang belum melakukan pembelian.
  • Standar waktu respons agar pelanggan tidak menunggu terlalu lama.
  • Sistem pencatatan leads dan status percakapan pelanggan.
  • Panduan menangani keluhan, pertanyaan teknis, atau permintaan khusus.

Customer service yang responsif dan informatif dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan sekaligus membantu mengubah leads menjadi penjualan.

6. Menganggap Campaign Selesai Setelah Konten Tayang

Campaign tidak berakhir saat konten sudah dipublikasikan atau iklan mulai berjalan. Justru setelah campaign tayang, bisnis perlu memantau performa, merespons audiens, dan melakukan optimasi berdasarkan data yang masuk.

Beberapa langkah yang perlu dilakukan setelah campaign berjalan meliputi:

  • Memantau performa konten atau iklan secara berkala.
  • Membalas komentar, chat, dan pertanyaan dari audiens.
  • Menguji variasi judul, visual, CTA, atau penawaran.
  • Menyesuaikan target audiens berdasarkan hasil awal campaign.
  • Menghentikan iklan yang tidak efektif.
  • Meningkatkan budget pada campaign yang menghasilkan konversi lebih baik.
  • Membuat laporan evaluasi untuk strategi campaign berikutnya.

Evaluasi setelah campaign membantu bisnis memahami apa yang berhasil, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana cara meningkatkan hasil marketing pada periode selanjutnya.

Buat Campaign Marketing Bersama Shanum Agency

Cara membuat campaign marketing akan lebih efektif apabila bisnis memiliki tujuan yang jelas, target audiens yang spesifik, konsep relevan, content plan, CTA mudah diakses, serta sistem evaluasi yang dapat diukur. Campaign yang baik tidak hanya mengejar exposure, tetapi juga membantu audiens memahami brand dan mengambil tindakan yang sesuai.

Shanum Agency dapat membantu bisnis menyusun campaign melalui riset target audiens, perencanaan konsep, strategi konten, influencer marketing, paid promote, iklan digital, landing page, monitoring, serta laporan performa campaign. Shanum Agency juga menyediakan layanan perencanaan campaign untuk kebutuhan awareness, launching produk, promosi event, engagement, dan penjualan.

Ingin produk Anda lebih dikenal luas dan meningkatkan penjualan melalui strategi promosi online yang profesional dan terukur?

Tim ahli kami siap membantu mulai dari perencanaan strategi, eksekusi campaign, hingga laporan performa lengkap.

Share This :

Siap Tingkatkan Brand Anda dengan Influencer Marketing?

Jangan biarkan kompetitor lebih dulu menguasai perhatian pasar.
Mulai campaign Anda sekarang dan rasakan peningkatan awareness serta potensi penjualan secara nyata.